Monday, December 31, 2012

Special Post: Why I Love Movies?

Why I Love Movie?


Film? Apa yang terbesit pertama kali ketika mendengar kata tersebut? Sebuah gambar bergerak yang memberikan suatu cerita dan dengan latar musik ataupun bisa jadi tidak ada. Media dimana kita akan melihat suatu perjalanan, suatu momen atau suatu pertarungan hidup dan bisa jadi suatu hal yang lucu yang membuat anda terpingkal-pingkal..


Sejujurnya saya mengenal film dahulu lewat tv. Beberapa film jaman dahulu yang ada pada tv swasta dan tentunya bersifat ringan. Dulunya saya sendiri hanya melihat film adalah sebuah tayangan biasa. Ya cukup nonton saja, maklum masih kecil. Beranjak dewasa, berbagai genre film mulai saya tonton. Dari tadinya hanya Power Ranger, Ksatria Baja Hitam berubah masa menjadi The Matrix, Charlie's Ange, Shrek 2, plus Spider-Man 2. Sebagai catatan, saya pertama kali menonton bioskop yaitu film tersebut adalah The Matrix Reloaded di Sartika 21 Plaza Dewi Sartika (sayangnya bioskop ini sudah tutup). Semenjak itu, saja jadi suka menonton film. Membaca resume atau artikel film lalu menontonnya. Baik dari majalah maupun internet.


Tadinya saya berpikir, ok setelah menonton film ya sudah. Tapi ternyata film menjadi sebuah hobi yang kini saya amat sukai beberapa tahun belakangan. Makin banyak film yang lebih berat juga berbobot yang saya tonton dan hobi ini memberikan banyak hal. Saya menyukai film dimana film tersebut memberikan warna dalam hal ini makna, kekuatan dan inspirasi dalam hidup. Ataupun pengalaman-pengalaman yang tidak terlupakan. Film menjadi suatu 'guru' dimana saya mempelajari beberapa tokoh dan karakteristik seseorang ataupun sekumpulan orang. Film mengajarkan saya bagaimana cara menghadapi hidup walaupun media itu fiksi namun bisa jadi terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana momen 'sedih-senang-berbunga' dalam hal percintaaan juga ada pada film.  Momen depresif pun tidak luput dari semasa menonton film. Bahkan membuka wawasan dunia yang tidak hanya ada di buku ataupun di internet belaka. Seberapa lama film itu pun, saya tetap ingin menontonnya. Percayalah, film bagus pun tidak akan basi. 


Bahkan film dengan cerita yang ringan dan kadang tidak ada logika nya pun saya tetap tonton. Kenapa? Karena ingin melepaskan kepenatan saya juga ya hanya ingin menikmati film tersebut. Contoh saja Taken ataupun beberapa film yang tidak mengedepankan cerita, malahan banyak aksi dan juga canda tawa. Hibenrnasi dalam hidup seakan hilang, dengan film apapun. Ya kasarnya apapun yang mereka bilang, saya akan menonton film tersebut. walaupun kontroversial, garing atau ya tidak rame.

Imbasnya saya nonton film? Saya jadi terpacu untuk memahami bahasa asing. Hal ini pun menjadi faktor dari saya untuk belajar bahasa dalam hal ini Bahasa Inggris. Belum bahasa-bahasa lainnya. Plus, kultur dan juga budaya di berbagai negara. Eksotisme dan juga daya tarik suatu daerah disana.


Sampai-sampai hobi saya yang satu ini saya mengikuti workshop dan juga membuat film pendek. Walaupun durasinya hanya sebentar, tapi butuh waktu seharian dan rasa ketidak puasan tetap ada. hasil filmnya pun jauh dari kata bagus namun ada sensasi dan kenikmatan tersendiri yang membuat saya makin menyukai film. Membuat film itu susah namun jujur bikin saya ingin membikin film pendek lagi suatu saat nanti. Ya, mudah2an saja.

Overall, hobi ini memang bikin ketagihan namun juga memberikan suatu 'kenikmatan' bagi saya. Film, membuat saya makin betah walaupun  harus duduk berjam-jam, kadang dibuat berubah mood namun disinilah suatu daya magis dari sebuah film. Yang jelas, hobi saya dan kecintaan saya akan film tidak akan membuat saya jenuh.


Regards,

Lucky


Post kali ini merupakan salah satu dari beberapa ulasan mengenai tema: "Why I Love Movie" beserta teman-teman yang menyukai film. Berikut mereka yang memberikan pandangannya mengenai tema tersebut. Sekaligus sharing mengenai review film mereka. Selamat membaca. Enjoy !


Bang Arief    : Ini Blognya
Merista          : Ini Blognya
Mbak Inda     : Ini Blognya
Bang Algitya : Ini Blognya
Bang Natan   : Ini Blognya
Bang Bana     : Ini Blognya
Heru              : Ini Blognya
Bang Zul       : Ini Blognya
Bang Bandhi : Ini Blognya
Bang Aditya  : Ini Blognya
Triyanto        : Ini Blognya





Tuesday, December 25, 2012

Review: Se7en (1995)


Director: David Fincher 
Cast: Morgan Freeman, Brad Pitt, Gwyneth Paltrow 
Writter: Andrew Kevin Walker 
Film ini diperuntukkan untuk dewasa dikarenakan adanya adegan telanjang dan kesadisan yang cukup eksplisit. 



  ''Gluttony, Greed, Sloth, Wrath, Pride, Lust, and Envy''


David Fincher merupakan salah satu sutradara yang bertalenta, tidak perlu diragukan. Sejauh ini saya baru menonton karyanya yaitu The Social Network, Zodiac dan The Girl With The Dragon Tattoo. Hampir keseluruhan saya menyukainya. Tapi ternyata, pada tahun 1995 dia menyutradarai sebuah film yang gila nya minta ampun, Se7en. Dibintangi oleh Morgan Freeman, Brad Pitt dan Gwyneth Paltrow. 

Filmnya sendiri mengenai seorang polisi yang sudah menjelang pensiun Detektif William Somerset yang masih menginginkan satu kasus terakhirnya bisa terselesaikan. Kebetulan ada polisi muda yang baru di transfer, Detektif David Mills yang tertarik pula dengan kasus tersebut. Ia pindah ke kota tersebut bersama istrinya dan menempati rumah yang tidak nyaman sama sekali. Dua detektif ini dari awal sudah sering adu argument, mengingat keduanya ini beda kepribadian. Somerset yang kenyang pengalaman lebih kalem dan berpikir matang2 sebelum bertindak sedangkan Mills yang masih egois dan juga terburu2 dan cepat naik darah. Kasus yang mereka tangani dikiranya perkara mudah. Namun ternyata si penjahat ini melakukan 7 kasus dimana setiap hari ada 1 kasus dari motif 7 dosa: Kebanggaan, Kerakusan, Iri, Hasrat, Keserakahan, Kemalasan, dan Kesombongan. Mereka sendiri kebingungan dan juga ngeri karena kasus ini tidak main-main dan secara logika saja sudah menakutkan. Dan bayang2 kejahatan ini pun mengancam mereka berdua lebih dalam dan juga resiko yang jauh lebih mencekam.
 


Aha, disini Brad Pitt (Troy, Ocean Eleven, Moneyball )mengesankan saya. Di Se7en, aktingnya sebagai Mills memberikan kesan yang mendalam. Bagaimana ia melebur menjadi seorang polisi muda yang mudah marah, emosional dan kadang suka bertindak semaunya. Bahkan disini Pitt rela urak2an plus tidak menarik. Morgan Freeman (The Shawsank Redemption)sebagai Somerset adalah karakter yang simpatik. Terlihat bagaimana Freeman membawa Somerset sebagai karakter yang kalem dan juga penuh perhitungan. Memang di beberapa film karakter dia ada yang sama tipikalnya, tapi disini pun mengesankan. Gwyneth Paltrow (Iron Man) walaupun scene nya tidak banyak tapi bisa menghidupkan karakter istri Mills yang tegar namun sebenarnya rapuh. Plus karakter si penjahat yang saya benar2 sampai tidak habis pikir mengenai motif si pelaku. Dari 3 kejahatan awalnya saja sudah bikin mata terbelalak. Cerdasnya pun tidak main2 mengenai alasan semua pembunuhan yang dia lakukan
Ini adalah karya David Fincher setelah sebelumnya dia stress menangani Alien 3 (saya belum menonton film ini). Pemikiran Fincher yang matang2 serta pemilihan cast yang dibutuhkan memang sebuah pilihan yang brilian. Secara alur film ini memberikan intensitas drama, thriller, crime-suspence dan ikatan batin yang kuat. Terlihat sekali dari awal adegan Fincher seperti tipikalnya membiarkan filmnya mengalir namun memberikan beberapa kejutan. Beberapa scene jujur sangat menganggu, Karena korban2nya sendiri di eksekusi dengan cukup sadis. Apalagi untuk saya yang kurang suka dengan scene2 yang menjijikkan, film ini sudah bikin mual. Lalu kepada siapa kita memberikan kredit atas semua cerita gila ini? Andrew Kevin Walker merupakan orang yang bertanggung jawab dalam hal ini. Latunan suara mencekam, dramatis dan juga mendebarkan sukses dilaksanakan oleh Howard Shore. Saya terkesan dengan bagian scoring di film ini. Pun sinematografi oleh Darius Khondji yang membuat Se7en di berbagai adegannya keren sekali. 

Bagi anda yang suka dengan crime suspence dan kejahatannya bener-bener gila, film ini adalah pilihan yang tepat untuk ditonton. Walaupun telat menontonnya tapi saya tidak menyesal baru menontonnya sekarang. A Well Recommended dan salah satu film terbaik dari David Fincher!



Se7en score: 5/5

Saturday, December 22, 2012

Review: The Amazing Spider-Man

 
Review: The Amazing Spider-Man (2012) 
Director: Marc Webb 
Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Rhys Ifans, Martin Sheen, Irfan Khan, Denis Leary 
*review ini mungkin mengandung spoiler/isi dari cerita film tersebut
                                            "In the new era, as Webb fulfill his job really great"
  
Spider-Man 4 kali? Kok Spider-Man nya beda? Kenapa bukan Mary Jane lagi? Kok badannya kurus? Kenapa pake alat jaring?

Hal diatas merupakan hal2 dimana ini terjadi pada re-boot The Amazing Spider-Man karya Marc Webb. Webb bisa dikatakan memiliki pekerjaan yang berat dimana imej Spider-Man Trilogy karya Sam Raimi sudah kadung melekat dengan penonton yang dahulu telah menontonnya. belum lagi banyak perubahan yang sebenarnya lebih ditekankan untuk mendekati versi komiknya. Adanya perubahan2 yang ada di film ini menimbulkan banyak pertanyaan kepada penonton yang hadir untuk menonton film ini.
Baiklah, kita kembali ke fokus film The Amazing Spider-Man. Jujur saja saya cukup kaget dengan berita reboot ini, apakah ada rasa sangsi? jelas. Namun saya harus menonton film ini untuk menjawab keraguan saya, apakah film ini mampu melebihi atau tidak sebagus trilogy nya Raimi. Maka saya menjawab: Inilah film Spidey yang memang ditunggu2. Dimana Webb mampu membawa roh dari Spider-Man, kultur dan juga bagaimana ia dengan berusaha keras membuat Peter Parker dan Spider-Man begitu dekat dengan penontonnya. Film dibuka dengan bagaimana latar belakang seorang Peter Parker sebagai seorang remaja yang harus kehilangan orang tuanya, lalu melewati fase2 hidupnya dengan perubahan setelah digigit laba, pertemanannya yang nantinya menjadi musuh yaitu, Dr. Curtis Connors, romansanya dengan Gwen Stacy, dan tak lupa bagaimana kedekatannya dengan Aunt May dan Uncle Ben.

 
Seorang Peter Parker yang rapuh, dan juga merasa kehilangan orang tuanya, berhasil dibawakan dengan luar biasa oleh seorang Andrew Garfield. Ia memberikan penjiwaan seorang Peter Parker yang memiliki kepahlawan, emosional di masa remaja nya ini dan berusaha bertanggung jawab dengan kekuatan yang dimiliki Peter sebagai Spider-Man. Tak lupa, sebagai Spider-Man jelas ia merupakan pilihan tepat. Disini, Spider-Man bisa dibilang tidak sekaku versi terdahulunya. Disini Webb membuat Spider-Man lebih beratraksi, seperti di komiknya. Bagaimana aksi Spider-Man, Webb Crawling/merayap, dan juga aksinya berayun2 yang dinamis. Belum lagi aksi guyon Spidey yang khas di komiknya yang kini ada dalam TASM ini. Rhys Ifans pun memukau sebagai Dr. Curtis Connors a.k.a The Lizard. Ia digambarkan seorang ilmuwan yang menginginkan perubahan, dan juga merubah kecacatan di tangan kanannya tersebut. Bagaimana ia akhirnya berubah menjadi jahat ketika kekuatan yang membuatnya membaik justru menjadi makhluk menyeramkan, dengan pembawaan yang hebat oleh Ifans. Sementara Emma Stone juga bisa dibilang cukup baik. Sejujurnya ya karakternya kurang dapet di setengah jam film, namun performanya meningkat seiring jalan cerita. Begitupun Martin Sheen tidak ragu dan baik sekali sebagai Uncle Ben yang menginspirasi seorang Peter untuk bertanggung jawab dan berbuat baik untuk semua orang. Sally Field sebagai Aunt May pun diberikan ruang yang cukup dan begitu dekat dengan peter dan ia begitu menyayanginya. Tak lupa, Denis Leary yang menjadikan Captain Stacy sebagai seseorang yang dekat dengan Gwen, dan juga mencari Spider-Man dimana ia dianggap Stacy sebagai ancaman bagi kota New York. Nah, yang jadi membingungkan bisa dibilang karakter Dr. Ratha oleh Irfan Khan. Ada kemungkinan ia akan disimpan sebagai penjahat di sekuel berikutnya. Disini, tidak banyak ruang untuknya.
Berbicara soal cerita, pendekatan karakter dan juga bagaimana transformasi baik Peter Parker dan Dr. Connors menjadi The Lizards diarahkan dengan baik sekali. Bagaimana tensi film yang dibawa dari awal ketika unsur kehilangan akan orang tua hingga pada akhirnya ancaman bagi kota dan pengorbanan seorang Spider-Man juga dideskripsi dengan keren. Saya pun tertawa terpingkal2 ketika melihat aksi komedi dan takjub ketika melihat pertarungan yang ada di TASM. Bagaimana kepahlawanan Peter sudah timbul bahkan sebelum ia menjadi Spider-Man. Romansa yang dihadirkan pun cukup pas. Bagaimana dinamisnya pengambilan gambar pada beberapa adegan aksi, bagaimana tone yang lebih gelap dan kelam. Belum lagi, alunan scoring James Horner yang begitu padu dan nge blend dengan film scene-scene TASM. Marc Webb tau betul bagaimana ia menginginkan Spider-Man lebih dekat, juga menimbulkan hal2 yang emosional yang membuat TASM begitu berwarna, dan juga menjadikan TASM sebagai film terbaik Spider-Man dibandingkan versi Trilogy terdahulu.

A Well Recomended

9/10

Friday, December 21, 2012

Review: Lewat Djam Malam (1954)


 
Director: Usmar Ismail
Writer: Asrul Sani
Cast: AN Alcaff, Netty Herawati, Dhalia, Bambang Hermanto, Rd Ismail, Awaludin, Titien Sumarni, Aedy Moward, Astaman, A Hadi, Wahid Chan, S Taharnunu, Lukman Jusuf
*review ini mungkin mengandung spoiler/makna dalam film
 

Berbekal rasa penasaran dan juga dimana romansa masa lampau dalam film yang tertuang di film karya Usmar Ismail ini membuat saya ingin menontonnya. Ketika saya menontonnya, tersenyum dan terkagum akan film yang monumental ini.


Bagimana tidak? Saya bahagia melihat bagaimana pada masa lalu Usmar Ismail memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang yang bernasib naas setelah berperang untuk negara, dan dia justru diacuhkan, dilecehkan dimana dalam hal ini terjadi pada seorang Iskandar . Ia berjuang untuk negaranya, dimana ia sebenarnya menginginkan suatu kedamaian. Ya, mana ada yang ingin membunuh orang yang menurut Iskandar pantas untuk dibunuh atau tidak. Lalu ia begitu merindukan teman2 perjuangannya yang dulu bersamanya. Akan tetapi semuanya justru bias, Gunawan atasannya malah menginginkan revolusi yang tidak benar, Gafar justru tidak menginginkan terjebak akan masa lalu dan ia kini bekerja di pembangunan, dan Puja yang jadi bos untuk wanita penghibur yang bersuara indah nan merdu, Laila. Laila merupakan seorang wanita yang memiliki impian yang indah, berkeluarga dan bahagia yang sayangnya tidak terjadi kepadanya. Iskandar memiliki seorang tunangan yang telah menungguinya, selama 5 tahun yaitu Norma. Norma begitu menyayanginya dan begitu ia bahagia ketika Iskandar kembali pulang. Akan tetapi, apa semuanya akan berimbas baik untuk Iskandar, setelah semua yang ia lakukan dan impian yang ia inginkan?


Melihat AN Alcaff yang begitu solid karakternya sebagai Iskandar, jelas patut diberikan apresiasi yang terpuji. Menghadirkan Iskandar yang rapuh namun memiliki impian. ALcaff memberikan emosi, raut muka serta penjiwaan penuh dalam memerankan Iskandar. Sementara yang amat mencuri perhatian saya jelas Dhalia yang memerankan Laila. Apalagi ketika ia menyanyi dan menghadirkan kemerduan yang indah dalam mewarnai film ini. Begitupun memberikan karakteristik yang membutuhkan suatu hal untuk impiannya, yang ironisnya Laila ini malah jadi wanita penghibur. Untuk peran Norma oleh Netty Herawati, kita bisa melihat bagaimana Norma yang bersedih ketika melihat ketidakbahagiaan Iskandar yang sebenarnya Norma ingin tunangannya ini bahagia. Jujur, seorang Norma cantik sekali, secantik aktingnya Netty. Sementara aura licik nan antogonis berhasil dibawakan dengan mantap oleh RD Ismail, juga Puja dan Gafar yang juga dibawakan dengan cemerlang oleh Bambang dan Awaludin.



Sementara bagaimana cerita Lewat Djam Malam? Jelas merupakan suatu penceritaan yang tidak akan terlupakan. Berterimakasihlah kepada Asrul Sani (Saya juga menyukai karyanya, yaitu Nagabonar) yang membuat Lewat Djam Malam tidak membosankan sama sekali dari awal hingga akhir. Cerita yang juga memberikan esensi moral yang menohok, dan juga indah. Beliau paham, bagaimana menjaga tensi emosi namun dibalut dengan romantika yang mengalir dengan syahdu dan meledak2 di beberapa momen. Jika melihat pengambilan gambarnya sendiri yang bisa dikatakan keren banget dalam menangkap momen2 yang juga menjadi andalan Lewat Djam Malam. Begitupun beberapa daerah di Bandung yang indah pada masa itu dan saya tersenyum getir ketika melihat beberapa daerah tersebut kini berbeda jauh dengan masa kini. Akan afdol jika anda menontonnya, melihat perbandingan keindahan Bandung masa lampau dan kini. Scene Braga masa lampau.yang ada juga menjadi senyum pahit jika melihat kondisi Braga saat ini. Oh ya, disini juga anda akan bernostalgia dengan beberapa lagu yang bisa jadi anda akan tersenyum2.


Ya, Lewat Djam Malam menghadirkan romansa, emosi, kepahitan, dan impian yang berhasil digambarkan dengan jelas oleh Umar Ismail. Bagaimana kemerdekaan, yang kita lihat saat ini begitu bias, sudah diceritakan dan tergambarkan jauh sebelum kita berteriak, berdemo dan perbuatan lainnya. Apa penghargaan kita, jika melihat para pejuang yang sepantasnya mendapat suatu hal yang layak justru kita injak perjuangan mereka. Film ini merupakan suatu warisan yang berharga untuk perfilman Indonesia yang sayang sekali untuk dilewatkan. Film ini juga merupakan sebuah surat cinta Martin Scorsece untuk memperlihatkan kepada dunia dan khususnya Indonesia, inilah film yang membanggakan. Terima kasih, Usmar Ismail, Asrul Sani, AN Alcaff serta jajaran cast dan tidak lupa Martin Scorsece juga banyak pihak yang telah merestorasi film ini. Terima Kasih.


Saya sangat merekomendasikan film ini

Score: 9,9/10

Wednesday, December 19, 2012

Review: The Details (2011)

 
Director : Jacob Aaron Estes 
Writer : Jacob Aaron Estes 
Cast : Tobey Maguire, Elizabeth Banks, Laura Linney, Ray Liotta, Dennis Haysbert 
Genre : Black Comedy, Romance, Drama


Setelah Spider-Man, sepertinya Tobey Maguire susah sekali untuk meraih kepopularitasannya lagi. Memang ada The Great Gatsby dan juga Life of Pi. Sialnya, The Great Gatsby diundur penayangannya dan Life of Pi yang adegannya dia akhirnya terpaksa dihapus oleh Ang Lee karena terlalu populer. Namun, ia menghasilkan karya pada tahun 2011 yaitu The Details. Filmnya sendiri cukup terbatas penayangannya dan lebih ditujukan ke festival. And yep, here goes Mr. Tobey to the comedy


Alkisah, Keluarga Lang selama ini hidup dengan kedamaian. Karir Jeff Lang (Tobey Maguire) sebagai seorang dokter tidak mengalami hambatan dan dia dikenal mempunyai reputasi yang baik. Istrinya, Nealy Lang (Elizabeth Banks) seorang penjual perabot tanaman. Keluarga Lang sendiri dihormati oleh Keluarga Mazzoni dimana mereka sendiri tidak dikaruniai anak, berbeda dengan Keluarga Lang yang sudah punya 1 anak. Jeff mempunyai sahabat karib yaitu Lincoln (Dennis Haysbert) yang selalu bermain basket dan selalu membantu Lincoln. Ia pun punya tetangga bernama Lila yang hanya hidup bersama kucingnya. Namun semuanya menjadi kacau ketika ada seekor rakun yang datang dan mengacaukan pekarangan rumah Jeff. Ia lalu melakukan banyak cara yang mendetail mengenai bagaimana si rakun itu tidak datang lagi. Ternyata bukan hanya rakun saja yang membuat permasalahan, namun hal lainnya yang membuat hidup Jeff berantakan dengan keluarga Mazzoni, keluarganya sendiri dan Lila.


Tobey Maguire disini masih berusaha lepas dari imej ‘Peter Parker/Spider-Man’ nya dan cukup berhasil. Sebagai seorang pria yang jelas menginginkan semua hal sedetail mungkin dan memiliki kebaikan serta tidak lepas dari dosanya sendiri. Cast lainnya baik Elizabeth Banks sebagai istri si dokter ini menampilkan aktingnya yang bagus. Laura Linney? Berhasil sebagai seorang tetangga yang menyebalkan dan picik dalam semua hal yang ia lakukan. Bagaimana dengan Ray Liotta? Ya karakternya tidak ada perkembangan yang berarti. Yang patut dipuji menurut saya adalah Dennis Haysbert. Ia memainkan peranna sebagai pria yang kuat namun lemah dan selalu memberikan simpatik. Kelemahan dalam film ini adalah chemistry masing-masing karakter yang lemah. Dari awal film sampai akhir pun sama saja. Memang Maguire dan Banks sudah bagus, sisanya tidak ada…

Idenya sendiri bisa dibilang unik dan Secara alur cerita, sudah cukup baik. Jacob Aaron Ester yang memgang kendali pada penulis dan sutradara. Ia cukup berhasil meramu kadar komedi dan drama dalam film ini. Pada paruh awal, film ini begitu nikmat ditonton. Namun, ada kebosanan ketika menonton di pertengahan. Konflik yang ada pun ada yang terlalu didramatisir. Sisi komedinya memang patut diacungi jempol. Tapi sayangnya, endingnya pun tidak bisa berbicara banyak. Terlalu medioker.

Overall, The Details menyimpan banyak potensi lebih namun kurang tergali lagi.

Score: 6/10


Review: Lost In Translation (2003)

 
 
 
Director: Sofia Coppola
Cast: Bill Murray, Scarlett Johansson, Giovanni Ribisi, Anna Faris
Genre: Drama, Romance.

Pernahkah anda tersesat dan tidak mengetahui arah namun bisa jadi membawa berkah? Sofia Coppola mengangkat hal ini dalam filmnya Lost In Translation yang mengambil sudut negara Jepang dan ada 2 orang yang tersesat yaitu Bob dan Charlotte

Bob Harris sedang mengunjungi negara Jepang dalam rangka membintangi sebuah iklan produk lokal disana. Hal ini terpaksa dilakukan oleh Bob karena iming-iming bayaran yang mahal dimana karir Bob sendiri sedang turun drastis. Belum lagi ia merasa walaupun mereka sudah menikah namun justru memasuki masa yang hambar dan menjemukan.sekarang dia malah kebingungan mengingat ia berada di negara yang asing baginya. Sementara itu Charlotte sedang menemani suaminya, seorang photografer yang sedang melakukan sesi pemotretan disana. Charlotte merasakan nuansa hambar dengan suaminya yang cenderung sibuk sendiri dan tidak memikirkan perasaannya. Kemudian takdir mempertemukan Bob dan Charlotte. Mereka kemudian saling mengisi hari-hari mereka dimana hal ini merupakan hal yang menghilang dari waktu-waktu yang mereka jalani selama ini.

Berikan applaus kepada Sofia Coppola yang membuat sebuh film unik namun juga memberikan perspektif baru mengenai sebuah hubungan romansa. Ya, dibalik sebuah ketersesatan dan juga kebingungan akan arah Sofia ternyata menngambil ide ini dan menjadikannya sebuah EPIC Romance yang kuat. Jalinan ceritanya sendiri begitu natural pun menyenangkan nan menyedihkan. Semuanya dimasukan ke dalam film ini. Bagaimana Sofia dengan cerdik mengambil sudut pandang Bob yang mulai kehilangan arah dan juga makin bingung dimana ia terdampar di sebuah Negara yang ia sendiri bingung akan budayanya. Bill Murray memberikan performanya yang luar biasa dimana karakter Bob begitu hidup olehnya. Menariknya lagi Sofia memang hanya menginginkan Bill yang menjadi Bob. Memang sebuah pilihan yang jitu. Sementara itu Charlottejuga sukses diperankan oleh Scarlett Johansson. Ia berhasil menampilkan seorang perempuan yang merasa tersesat dengan pernikahan barunya dan menginginkan suatu hal yang membuatnya nyaman. Hebatnya, ternyata Scarlett memerankan peran ini 8 tahun lebih tua dimana ia pada saat itu baru berumur 17 tahun. Chemistry yang kuat diantara keduanya yang dipisahkan dengan jarak umur ini begitu padu . Sementara itu Ribisi pun mencuri perhatian sebagai seorang suami yang hidup di dunianya sendiri dan Anna Faris yang lumayan berbeda dari tipikal filmnya dia yang cenderung komedi berlebihan.

Sebagai sebuah film yang keren dengan penampilan yang memukau oleh Bill Muray dan juga Scarlett Johansson. Juga film yang indah oleh Sofia Coppola

Score: 4,5/5

Review: Dredd 2D

 
 
 
Director: Pete Travis
Cast: Karl Urban, Olivia Thirlby, Wood Harris, Lena Headey
Genre: Action,gore.



"Ma-Ma is not the LAW, I am the LAW"
Dredd


Sebagai sebuah film yang didaur ulang dimana film terdahulunya mendapat sambutan yang buruk dan juga penampila konyol Sylvester Stallone. Kali ini Dredd diperankan oleh Karl Urban dan Olivia Thrilby yang menemaninya dalam menumpas kejahatan.

Sejak awal film, saya terkesan dengan film ini dimana memberikan gambaran yang absolut mengenai seorang Dredd yang tidak kenal ampun damalm membahas kejahatan dan menegakkan keadilan. Apalagi Dredd disini pun sesuai dengan komiknya yang selalu ditutup kepalanya dengan helm. Sekilas suara karl Urban sedikit lebih berat dibadingkan biasanya. dimaksudkan untuk memberikan kesang 'garang'. Patut diacungi jempol kebranian Karl untuk memerankan Dredd. Sementara Anderson yang diperankan Thirlby mencuri perhatian dimana ia berhasil memerankan seorang hakim yang masih 'hijau' dalam pekerjaannya. kecemasannya, dan bagaimana ia bertransformasi karakternya menjadikannya kuat. Lena Headey sendiri sebagai Ma-Ma sendiri lumayan mengerikan. Sebagai seorang kepala gangster yang kejam dan psikopat.beberapa scene yang ditampilkan oleh karakter ini sendiri cukup mengerikan. Perseturuannya dengan Dredd sendiri lumayan intens dan duel keduanya sendiri lumayan.

Berbicara mengenai cerita, sebenarnya sudah banyak film yang mengemas paket yang ada dalam film ini, hanya pengulangan saja. Namun, justru Pete Travis memberikan intensitas dan juga selalu memberikan kejutan yang saya sendiri dibuat kaget. Tone dark dan masa depan yang tidak terlalu megah nan kumuh. Ada beberapa scene yang cenderung naik turun namun tidak terlalu menganggu. dialognya sendiri tidak murahan dan keren. Saya pun suka dengan alunan musik dari Paul Leonard Morgan. Ketegangan dan juga beberapa adegan aksi pas sekali.

Overall, Dredd bisa dibilang salah satu film yang keren di 2012 namun belum bisa dikatakan memorable.

Dredd Score: 3,5/5

Film Lama Kenapa Baru Ditonton?

Sebuah pertanyaan yang menggelitik saya  beberapa hari ini:
"Kenapa kamu baru menonton film tersebut? Padahal sudah lama dirilisnya?"



Sebenarnya lumrah saja karena saya sendiri baru menemukan atau berkesempatan untuk menonton film tersebut. Entah berjarak setahun, 5 tahun, atau hampir seabad. Tidak semua film yang saya ingin tonton bisa dinikmati karena berbagai alasan.

  1. Filmnya baru ketemu
  2. baru ada waktu untuk menontonnya
  3. Kembali ke 2 poin diatas
Bukan saya saja yang mengalaminya, tetapi beberapa teman yang hobi menonton ataupun reviewer yang mungkin sama persis dengan hal diatas. Kalaupun ketemu, tergantung saya juga apakah ingin segera menontonnya atau tidak. Rasanya memang tidak masalah karena hobi menonton tidak selalu mengharuskan saya update atau takut ketinggalan. Paling yang saya hindari adalah spoiler atau bocoran dari film tersebut sehingga membuat nafsu menonton saya akan terganggu. 


 1 dekade, triwulan, atau jarak waktu lainnya, itu bukan lah hambatan untuk anda bisa menonton film. Saya memiliki teman yang suka sekali dengan film klasik dimana kebanyakan orang kini cenderung menonton film yang lebih baru. Namun motivasinya jelas patut diacungi jempol. Film era 40-50an sudah menjadi menu utamanya.


Melanjutkan pembahasan diatas.  Seringkali, beberapa orang yang saya tanyakan apakah mereka tertarik untuk menonton film jaman dahulu? Mayoritas bilang tidak terlalu tertarik karena hitam putih atau sudah terlekang jaman. Padahal tidak ada salahnya untuk menontonnya sebagai sejarah dimana pada masa tersebut. Bisa juga film berjarak satu tahun yang dulu sudah ramai diperbincangkan sehingga anda mungkin dikategorikan 'penonton basi'.


Satu jawaban dari teman saya mengenai film yang sudah lama dan baru sempat ditonton:

"Kalau kamu menonton film lama itu tidak masalah. Film bagus tidak akan pernah basi atau usang"


Pada akhirnya, saya tidak pernah merasa ragu untuk menonton film tersebut. Walaupun pertanyaan itu akan terulang, namun motivasi saya untuk menonton jelas tidak akan pudar.

Monday, December 17, 2012

Review: Requiem For A Dream

Director: Darren Aronofsky
Cast: Jared Letto, Jennifer Connelly, Marlon Wayans, Ellen Burstyn

"Drug Makes Depress"


 
 
 
 
 
 
 
Sebuah film mengenai kecanduan narkoba yang dibuat dengan brilian oleh Darren Arenofsky. Sejak awal film dimana kita diantarkan pada hubungan yang tidak sehat antara Harry dan Sara Gloldfarb. Sara, seorang janda yang sendirian dan juga merasa kesepian terlebih suaminya yang telah wafat dan juga Harry yang tidak tinggal lagi bersamanya. Harry dan sahabat karibnya Tyrone, keduanya sama sama pengangguran dan pemakai narkoba. Sementara itu, Marion pacarnya Harry juga sama, dan sedang dalam masa rehab sebenarnya. Sara seperti mendapat durian runtuh ketika ia mendapat teepon dimana ia akan masuk ke sebuah acara tv. Dibayangannya, ia akan membuat bangga Harry dan mendiang suaminya. Harry berpikiran narkoba yang biasa mereka konsumsi bisa jadi ladang emas baginya, Marion dan Tyrone. Maka Harry dan Tyrone pun menjadi pengedar narkoba. Marion mempunyai obsesi memiliki toko pakaian dengan labelnya sendiri, Harry memiliki keinginan terpendam yaitu membahagiakan ibunya, serta Tyrone yang sebenarnya rindu akan kehadiran ibunya. Sara yang merasa harus cantik dan juga berkeinginan memakai gaun merahnya yang tidak muat karena kegemukan. Maka ia melakukan berbagai cara untuk bisa kurus dan akhirnya meminum obat diet yang ternyata membuat ia kecanduan. Keempatnya mempunyai impian yang ingin mereka dapatkan, namun kecanduan akan narkoba telah mempersiapkan mereka ke jurang kehancuran.

Bagaimana rasanya mempunyai impian namun meraihnya dengan cara yang salah? Darren Arenofsky menangkap hal ini untuk dijadikan sebuah film yang merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Bagaimana Aronofsky memberikan gambaran yang kuat akan karakteristik keempat karakter di film ini, disertai dengan problema dan juga apa yang sebenarnya mereka inginkan. Setipe dengan Trainspotting besutan Boyle, namun Requiem For A Dream dibuat dengan tingkat depresi yang terbangun dari awal hingga klimaks yang menggetarkan di akhir film. Bagiamana permasalahan antara Sara dan Harry yang disertai chemistry yang kuat antara Letto dan Ellen. Letto memerankan seseorang pemuda yang memikirkan jalan pintas untuk kesuksesannya, berhasil dia bawakan dengan baik. Begitupun Marlon Wayans sebagai Tyrone yang juga memberikan kombinasi persahabatan yang memikat disertai kepedihan hatinya. Sementara Connelly juga cemerlang menjadi seorang gadis yang akhirnya terjebak untuk melakukan jalan pintas lainnya. Namun, jelas pujian lebih tertuju pada Ellen Burstyn. Bagaimana ia berusaha tegar pada awal2nya namun justru ikut rapuh dan terjerumus dengan impiannya yang justru membuat ia menjadi pesakitan. Seluruh emosi, kepedihan, keinginan yang terpendam yang berhasil dibawakan dengan sempurna oleh Ellen. Aronofsky mengarahkan film ini dengan bukan hanya untuk menakuti2 kita akan bahayanya narkoba, bahayanya keinginan terpendam kita yang bagaimana kita harus mendapatkannya jika caranya salah. Aronofsky memperlihatkan bahwa siapa mereka sebenarnya, apa imbas dari semua yang mereka lakukan dengan jalan pintas tersebut, juga sebuah ledakan emosi dan depresi luar biasa di bagian akhir film. Bila dibandingkan dengan Black Swan yang juga mengangkat isu psikologis, maka sebenarnya di Requiem For A Dream lah Aronofsky memberikan film yang melebihi Black Swan. Bagaimana momen dramatis, depresi dan juga momen emosional, disini Aronofsky dengan cerdik mempermainkan emosi yang tiada henti semenjak pertengahan film. Oh ya, dan di film inilah Lux Aeterna karya Clint Mansell yang berkumandang dari awal film dan klimaks film ini merupakan sebuah musik yang kuat dan memang menyalurkan suatu kegetiran, depresi, dan kepedihan yang sesuai dengan tema di film ini. Sebuah theme song yang membuat saya sendiri merinding mendengarnya. After all, this is one of the best movie i ever seen. A Well Recomended


Score: 9,5/10

Battleship(2012)



Director: Peter Berg
Writers: John & Erich Hoeber
Cast: Taylor Kitsch, Alexander Skarsgard, Rihanna, Liam Neeson, Tadanobu Asano, Brooklyn Decker,John Tui, Jesse Plemons.
Genre: Action/Sci-Fi

 









“Motherf…. Fire!”

Sebuah film yang diangkat dari permainan Battleship dan kini Peter Berg mengadaptasinya sebagai sebuah film aksi. Sebuah invasi alien dikarenakan komunikasi oleh manusia dan diterjemahkan untuk menjajah bumi oleh Para Alien. Kemudian para pelaut pun berusaha melawan mereka.

Sebuah film yang sebenarnya bias dibilang hanya mengambil unsur  fun saja tanpa harus berpikir banyak dikarenakan hanya hiburan semata. Sejak awal film saya cukup menikmati dimana ada unsur komedi yang sengaja diperkenalkan untuk karakter utama yaitu Stone Hooper dan Alex Hooper. Namun entah kenapa Berg seperti kebingungan setelah alur tersebut, karakter dari ‘bukan siapa-siapa, menjadi ,pahlawan, memang sudah menjadi pakem Hollywood selama ini. Kali ini, bias dibilang ya lumayan heroik  seorang Alex ini, tapi sialnya dia benar2 kaku dan tidak terlihat kepahlawanannya. Plotnya sendiri dibuat konyol. Melawan alien dengan kapal laut? Yang benar saja. Banyak dialog yang lumayan ‘bodoh’ sehingga jelas menganggu  jalan film ini sendiri.  Final battle nya lumayan mengasyikkan. Coba saja secara keseluruhan film ini mengasyikkan, akan beda cerita. Belum lagi beberapa plothole yang menambah kekacauan Battleship.

Dari segi cast, boleh dibilang hamper semua pemain bermain ‘lepas’. Lepas dalam artian mereka benar bias digantikan oleh siapapun, tidak ada yang memorable sama sekali. Taylor Kitsch berusaha cool sebagai seorang perwira pelaut namun hanya bisa berteriak dan berbicara kalem tanpa wibawa apapun, Alexander? Sama saja. Tidak ada yang bisa diharapkan. Asano menjadi actor yang mencuri perhatian di film ini. Rihanna? Aktingnya lumayan dan bisa digantikan oleh aktris lain sebenarnya. Neeson? Termasuk daya tarik film ini dan aura “Neesoniscm”  nya tetap saja ada. Jadi saya seperti melihat Liam Neeson, bukan karakter di film tersebut. Cast lainnya? Banyak teriak, mengeluh dan kemudian menjadi heroik yang sialnya tidak mengesankan.
Peter Berg sukses membuat film ini tidak ada juntrungannya. Bayangkan betapa membingungkannya Battleship sehingga ke arah manapun, Battleship hanya seru di final battle dan sisanya hanya sebuah parodi. Berterima kasihlah pula kepada Hoeber bersaudara dimana mereka sebagai penulis film ini pun menjadikan Battleship sebagai plot nihil yang dipaksakan menjadi sebuah film. Dari segi special efek, lumayan menjadi poin lebih. Steve Jablonsky yang bertanggung jawab dalam seksi musik di film ini pun tidak bisa lepas dari scoring Transformers nya, jadi tidak mengesankan sama sekali. Memang banyak lagu rock yang mengiringi film ini, lumayan untuk menghibur kebosanan. 

Overall, Battleship merupakan film yang banjir efek namun disertai plot nihil, akting nihil dan lengkap sudah hancurnya film ini.

Score: 4/10

Saturday, December 15, 2012

Paperman (2012)

 
 
 



Sebuah film animasi pendek dari Disney yang diselipkan sebelum tayangnya Wreck It Ralph. Jujur saya sangat terkesan dengan animasi ini. Walaupun bisu, namun latar musik sangat mendukung setiap adegan di film ini. Untuk penceritaan, dengan durasi yang pendek pesannya pun tersampaikan. Dimana masa kini lebih mengedepankan CGI animation, Disney kembali ke pattern animasi tradisional namun dengan sentuhan yang brilian.
Bagaimana perjuangan seorang Paperman yang mencoba menarik hati seorang wanita yang ditemuinya di stasiun. Saya sendiri gemes dengan perjuangan Paperman untuk berusaha menggaet si waniita. Selanjutnya? Sebaiknya anda tonton supaya lebih enak. Hmmm, Disney melakukan pekerjaannya dengan amat baik. Jika anda ingat dengan Up dimana adanya part Carl-Ellie, maka Paperman ini sendiri hampir mirip. Worth to watch.
Score: 4,5/5
 


Morning Movie? Start Fresh !

Adalah blog saya mengenai review film. Sebenarnya sudah punya blog sejak dulu, namun karena malas mengurusinya jadinya cukup terbengkalai. Namun kali ini untuk blog sekarang saya akan rutin menulis review film untuk resensi atau rekomendasi untuk teman-teman yang suka menonton film. Enjoy and Live Forever

Regards,
Lucky Ramadhan a.k.a LuckyR12

untuk berkomunikasi via 
facebook
twitter