Friday, November 1, 2013

Review: Before Midnight (2013)


Director: Richard Linklater
Screenplay: Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy
Cast: Ethan Hawke, Julie Delpy
Genre: Drama, Romance
Rating: Dewasa


"18 tahun yang luar biasa dalam momen genre romantis, kembali hadir disini"


Akankah terbayang sebuah kisah romansa akan terus berjalan hingga 18 tahun kemudian? Sebuah kisah mengenai obrolan Jesse-Celine yang masih menghiasi jagad perfilman yang selalu dikotomi oleh film romantis yang mainstream. Mereka kembali membuat perbedaan, dan kini Richard Linklater siap membayar lunas penantian penggemar dari bagian ketiga: Before Midnight. Namun anjuran dari saya: tonton Before Sunrise dan Before Sunset karena akan lebih nikmat lagi.


Jesse dan Celine kini telah bersama semenjak pertemuan mereka di Paris. Sekarang mereka sedang berada di Yunani karena Celine sedang mengembangkan usahanya. Jesse sudah menjadi penulis yang mapan dan mereka di anugerahi 2 anak perempuan kembar. Walaupun akhirnya mereka dipersatukan, polemik pun tidak terhindarkan. Baik dari anak Jesse dari perkawinan dia sebelumnya, maupun Celine yang merasa adanya ketidak nyamanan dari naluri perempuannya. Sebuah momen besar dan bom waktu pun lambat laun menunggu mereka.



Sebagai film ketiga, ada treatment berbeda yang dilakukan. Ketimbang memberikan beberapa scene pendahuluan seperti 2 installment sebelumnya, Linklater lebih sering mengedepankan long shot yan dioptimalkan. Hasilnya memang fantastis. Cerita dibuat sangat nyata dan juga momen klimaks yang sangat diluar dugaan saya. Ya, momen itu merupakan salah satu momen yang saya sendiri kaget dan memberikan nuansa emosional yang mengerikan.



Melanjutkan peran mereka dengan selang 18 tahun dari Sunrise dan 9 tahun setelah Sunset, Ethan Hawke dan Julie Delpy tidak kehilangan pesona. Mereka justru semakin mantap dalam chemistry nya. Hawke memberikan Jesse seseorang yang kini berubah namun sangat laki. Ya, sifat pria dalam hubungan cinta sangat terlihat disini dan natural. Sementara Delpy pun sama. Kita dihadapkan oleh bagaimana wanita menghadapi masalahnya, kini ia mempunyai peran seorang ibu dan ketakutannya akan banyak hal. Delpy menghadirkan semua momen yang diam namun pasti dalam ledakan kekesalannya itu secara natural. Tidak diragukan lagi bagaimana kualitas mereka yang begitu nyata sebagai pasangan yang kini mencapai level berbeda.
 

Richard Linklater seperti tahu betul bagaimana membuat penonton penasaran. Ia meramu kombinasi-kombinasi cinta yang tidak akan anda temui di film romantis biasa. Inilah kekuatan trilogy ini. Beberapa angle yang ditampilkan sangat nikmat untuk dipandang. Belum lagi pemilihan tempat-tempat di Yunani yang sangat eksotis namun juga menggambarkan suasana Jesse dan Celine. Linklater bersama Hawke juga Delpy, menyalurkan skrip brilian mereka dan tidak membuangnya secara percuma di semua scene yang ada. Untuk semua musik yang memang minimalis karena dialog yang diutamakan, Robert Reynolds justru memaksimalkannya. Penggambaran setiap perasaan yang dialami dan juga momentum pun dikemas dengan ciamik olehnya.


Akhir kata, Before Midnight merupakan Dessert yang sangat sempurna dari menu Before Trilogy. Film ketiga yang masif dan merupakan salah satu film terbaik 2013 bahkan dalam genre romantis. Trio Linklater-Hakwe-Delpy lagi lagi membuat saya terpesona dan takjub. Apalagi yang bisa saya bilang? Film ini sangat direkomendasikan! Selamat menonton

Score: 5/5

Tuesday, October 22, 2013

Review: Superman The Movie (1978)


Director: Richard Donner
Story: Mario Puzzo
Screenplay: Mario Puzzo, Leslie Newman, David Newman, Richard Benton.
Cast: Christopher Reeve, Marlon Brando, Gene Hackman, Jackie Cooper, Margot Kidder.
Composer: John Williams
Genre: Superhero, Drama, Romance, Action.




"You'll Believe A Man Can Fly"


Tepat 35 tahun yang lalu, Richard Donner bersama produser Alexander dan Ilyand Salkind membuat sejarah. Mereka membuat sebuah megahit blockbuster: Superman The Movie. Sebuah film yang menjadi fondasi bagi perfilman superhero era kini. Christopher Reeve pun merupakan mutiara yang memang dtakdirkan sebagai Superman. Film ini disutradarai oleh Richard Donner dan dibintangi pula oleh Marlon Brando, Gene Hackman, Jackie Cooper dan Margot Kidder.Mereka mengiringi kita cerita tentang seseorang superhero berkostum biru dan jubah merahnya itu.



Di suatu planet jauh nan disana yaitu Krypton, telah lahir seorang anak yatu Kal El. Jor El ayahanda dari Kal El, memutuskan mengirimkan anaknya ke suatu planet bernama bumi. Hal ini dikarenakan Krypton akan mengalami kiamat. Sementara itu, Jonathan Kent dan Martha yang sedang membenarkan mobil tidak menyangka ada sebuah meteor jatuh ke bumi. Sebuah anugerah yaitu Kal El tiba di bumi dan mereka menganggapnya sebagai anak bernama Clark Kent. Hingga akhirnya Clark dewasa dan siap menentukan takdirnya sebagai pelindung bumi, melalui kekuatan supernya. Ia pun bekerja sebagai wartawan di Daily Planet dimana Perry White menjadi atasannya serta Lois Lane sebagai rekan kerjanya. Seketika, ancaman datang dari seseorang yang kaya dan ingin menguasai bumi yaitu Lex Luthor. Superman pun harus melawan penjahat satu ini untuk melindungi umat manusia.




Dengan durasi 2 jam 30 menit, semua adegan yang ada di film ini memang pas. Terasa lama? Malah saya merasakannya cepat sekali. Bagaimana plot nya mengalir dengan enak. Unsur drama yang membuat karakter Superman begitu membumi dan aksi dengan kadar yang pas. Saya pun mengakui, setiap scene di film ini sangat monumental dan berharga. Walaupun film ini sedikit memiliki cela di bagian akhir, semua itu tertutupi oleh scene yang epik dari seseorang yang kita percaya bisa terbang ini.




Christopher Reeve sukses membuat ikon Superman begitu melekat di dirinya. Ia sudah mempersiapkan dengan betul dengan akting dengan identitas berbeda. Bahkan saya sendiri takjub ia bisa menjadi Clark Kent yang kikuk, kemudian bertransformasi menjadi sosok super yaitu Superman. Marlon Brando memang luar biasa, kharisma nya sebagai Jor El memang menjadi daya tarik lainnya dan aura bijaknya merupakan kunci lainnya. Gene Hackman sukses sebagai Lex Luthor, penjahat yang mempunyai ide licik yang laten dan juga nyentrik. Apalagi ketika scene Luthor bersama Superman, begitu intens dan imengintimidasi. Sebagai rekan kerja dan pasangan romantisnya, Margot Kidder pun mempunyai chemistry dan daya tarik yang enak untuk dipandang. Walaupun memang karakter Lois tidak seperti itu di komiknya.



Memang butuh orang yang tepat untuk membuat film mengenai Superman. Dengan tanggung jawab yang berat ini, Richard Donner membuat film ini berada pada level tertinggi yang sulit ditandingi. Ia mengarahkan adegan demi adegan yang membuat saya tidak bosan. Hal ini pun didukung dengan skrip yang bagus dari Mario Puzo dan kemudian ditulis. Tim produksi dan Donner sendiri pun mengerti keterbatasan mereka dalam segi spesial efek, namun untuk ukuran jaman tersebut memang megah. Apalagi scene terbangnya pun layak dikenang. Mario Puzzo, David Newman, Leslie Newman serta Robert Benton membuat kombinasi cerita yang megah dan epik. mereka mampu menghidupkan karakter Superman menjadi seseorang yang melegenda ini. Salah unsur yang tidak kalah supernya yaitu John Williams. Begitu main theme dari Superman ini berkumandang, begitu membahana, megah dan juga dahsyat. Sebuah kombinasi dari tim produksi yang hebat.


Walaupun film ini sudah lama sekali, namun saya percaya film ini tidak akan pernah lekang oleh waktu. Film ini memberikan suatu standar, suatu momen dimana film superhero bukanlah film yang biasa saja. Hingga akhirnya anda akan percaya... bahwa seseorang bisa terbang dengan indah. A Well Recomended!



Superman The Movie score: 4,9/5

Saturday, August 3, 2013

Review: The Deer Hunter (1978)

Director: Michael Cimino 
Screenplay: Deric Washburn 
Cast: Robert De Niro, Meryl Streep, Christopher Walken, John Cazale, John Savage, George Dzundza, Chuck Aspegren. 
Music: Stanley Myers
Genre: War, Drama.


"Personal, War and Friendship"


Film mengenai peperangan dan berbagai aspek yang ada baik aksi bahkan hingga komedi sudah banyak. Namun patut diakui, salah satu film yang kuat bukan hanya karena perang, akan tetapi hal utama lainnya yang lebih kuat. Salah satu dari film yang mengambil jalan cerita tersebut ialah The Deer Hunter. Film ini di release pada 1978 dan memperoleh kritik yang positif. Dibintangi oleh aktor kesayangan: Robert De Niro, Meryl Streep dan Christopher Walken.

Film ini diawali ketika Michael beserta teman karibnya: Nick, Stan, Steven dan Axel akan mempersiapkan pernikahan untuk Steven. Mereka hendak merayakannya dengan begitu khidmat sebelum tugas militer akan dilaksanakan oleh Michael, Steven dan Nick. Mereka akan menghadapi perang di Vietnam. Nick dan Steven menyukai gadis yang sama, yaitu Linda. Tibalah mereka di peperangan yang sangat membuat efek ketakutan dan histeris dalam psikologis mereka. Mereka harus berjuang dari kejamnya suatu pertempuran yang tidak mengenal ampun ini. Hingga suatu imbas yang luar biasa yang akan Michael hadapi beserta teman-temannya dari kejadian tersebut.|

Siapkah anda dengan durasi sepanjang 3 jam ini? Saya sendiri mengakui bahwa film durasi 2 jam 30 menit saja kadang sangat tidak nyaman. Tapi The Deer Hunter tidak membiarkan hal itu terjadi. Memanfaatkan hal tersebut, hubungan personal dan penceritaannya menjadi lebih intim. Bahkan di beberapa poin hingga pada akhirnya di ending, semua momen dan emosi begitu memuncak. Saya sendiri merasa merinding, begitu credit title berjalan.

Robert De Niro tidak perlu diragukan lagi. Di masa tersebut dimana memang namanya merupakan jaminan mutu. Untuk perannya ini sendiri, ia sampai 6 bulan bekerja di tambang besi tersebut. Semuanya terbayarkan lunas dengan penjiwaan karakter yang kuat. Christopher Walken sebagai Nick, juga menyatu dalam perannya. Malahan performanya yang gemilang ketika masa peperangan dan setelahnya itu patut diacungi jempol. Sangat pantas untuknya meraih Oscar sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Chemistry nya dengan De Niro luar biasa. Meryl Streep? Perannya disini tidak begitu dominan, namun mampu menemani tokoh-tokoh baik Nick dan Michael sebagai wanita yang tegar. Perhatian khusus dan pujian juga diberikan kepada John Cazale dimana disini merupakan film terakhirnya sebelum wafat. Memberikan performa luar biasa dimana ia berjuang melawan kanker pada masa syuting film ini. Hasilnya? Terbayarkan dengan perannya yang mencuri perhatian.


Cimino sadar akan potensi cerita yang ada. Memaksimalkannya dan juga membuat seluruh cast mampu memberikan performa terbaik Ia menggiring saya untuk masuk ke penceritaan yang kental dengan unsur persahabatannya ini. Setiap momen melankolis, kegetiran dan juga rasa rindu melebihi romansa sekalipun. Interaksi antar tokoh pun begitu humanis. Deric Washburn yang menulis skenario film ini pun mempunyai andil besar dalam membuat seluruh cerita dengan plot yang kuat. Apalagi momen pernikahan dan juga peperangan serta semua imbas itu, sempurna. Stanley Myers tidak banyak memasukkan unsur musik di film ini. Namun ia mampu membuat Cavatina (lagu asli nya merupakan ciptaan dari john Williams), sangat berarti di film ini dan monumental.

The Deer Hunter merupakan salah satu film perang yang tidak hanya berbicara mengenai suatu dampak psikologis personal, namun sentuhan persahabatan yang begitu erat. Merupakan salah satu film terbaik sepanjang masa yang pernah saya tonton. Penampilan yang luar biasa dari Cimino dengan cast-cast terbaiknya ini. Luar Biasa.
The Deer Hunter score: 5/5

Tuesday, July 30, 2013

Review: Trance (2013)


Director: Danny Boyle
 
Cast: James McAvoy, Vincent Cassel and Rosario Dawson 
Genre: Drama, Suspence.
Note: Film ini ditujukan untuk penonton yang dewasa, karena adanya adegan yang cukup menganggu dan seksualitas yang eksplisit.



"Was I hypnotized?"

Danny Boyle sudah dipercaya oleh banyak orang kalangan lewat kualitas film-filmnya, bahkan sudah memenangkan Oscar. Kali ini, ia membuat sebuah film mengenai 3 orang karakter yang dasar ceritanya yaitu sebuah perampokan. Dibintangi oleh James McAvoy, Vincent Cassel dan Rosario Dawson. Film ini tayang di Inggris pada medio Maret 2013.
Simon, orang yang bekerja di Pelelangan Lukisan tiba-tiba harus menghadapi kenyataan ketika lukisan yang ia jaga dirampok oleh Franck. Pukulan yang menghantam kepalanya tersebut membuat ia lupa ingatan. Sial bagi Franck, tas lukisan yang ia curi itu ternyata kosong sehingga ia harus kembali berurusan dengan Franck. Namun dengan posisi Simon seperti itu, mau tidak mau Franck harus membuat ingatannya kembali. Maka, Simon pun diberikan instruksi ke pakar hipnotis yaitu Elizabeth Lambs. Perlahan-lahan, ingatannya kembali. Namun ternyata membuka tabir yang membuat Simon, Franck dan Elizabeth semakin dalam melewati batas awal tujuan mereka.
Trance dibuka dengan beberapa scene yang sangat mencuri perhatian. Memulai semuanya dengan pelan namun pasti hingga akhirnya makin menanjak menuju klimaks yang membuat saya sendiri, takjub karena tidak terpikirkan sebelumnya. Tidak ada hal yang membosankan disini. Tentunya plot ceritanya yang terfokus oleh masing-masing ketiganya sangat pas.
Film ini tidak akan hidup tanpa ketiga pemeran utamanya, McAvoy, Cassell dan juga Dawson. Mereka merupakan pilihan yang tepat. Bagaimana seorang James McAvoy sebagai Simon yang harus bersusah payah untuk mengingat semuanya dibalik intrik yang ia sendiri tidak mengerti. Peran McAvoy ini pun memang berbeda ketimbang Wanted dan First Class yang pernah saya tonton. Saya menyukai perannya disini. Vincent Cassel sendiri tidak mengecewakan. Sebagai Franck yang sangat menginginkan lukisan itu, tapi ada unsur lainnya yang membuat Franck ini sangat menarik. Ditangan Cassel, peran ini menjadi begitu hidup. Bagaimana dengan Rosario Dawson? Lebih mengagetkan lagi. Didapuk sebagai pemeran utama, ia memberikan penampilannya yang cemerlang. Sebagai pakar hipnotis, ia pun akan menghipnotis pandangan anda dengan dirinya. Ketiga dari mereka juga mengikat chemistry yang terjalin dari awal dengan kuat.
Sebagai film ke 4 dari karyanya yang saya tonton, film ini memberikan pengalaman yang berbeda. Saya sendiri tidak menyangka ia bisa membuat film seperti ini, karena memang bukan tipikalnya. Namun keberaniannya untuk membangkitkan ide film ini yang sudah ia pendam sejak hampir dua dekade lalu ini membuahkan hasil yang pantas. Ia mengarahkan penonton untuk menyelami tidak hanya Simon, melainkan ke dua karakter lainnya juga membuat ceritanya fokus. Bahkan memberikan elemen kejutan yang efektif. Hal ini tidak terlepas oleh padunya penulis Trance yaitu: Joe Ahearne dan John Hodge. Mereka membuat alur Trance yang pelan namun seketika menghentak. Rick Smith yang bertanggung jawab di divisi scoring memberikan nuansa musik yang pas dengan film ini. Jangan lupakan soundtrack dari Emile Sande dan Rick Smith lewat Here It Comes nya. Menjadi salah satu lagu soundtrack favorit saya.
Overall, Trance merupakan kuda hitam dari masifnya perfilman yang sesak dengan terlalu banyak spesial efek. Sebuah pengalaman tersendiri walaupun anda sendiri pasti akan sedikit kaget dengan gaya penyutradaraan Boyle ini. Sebuah film yang menghipnotis saya dengan cerita dan performa ketiga aktor utama yang memukau. Well Recomended!

Trance Score: 4/5

Sunday, June 2, 2013

Review: Star Trek Into Darkness (2013)


Director: J.J Abrams
Writer: Roberto Orci, Alex Kurtzman & Damon Lindelof
Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Benedict Cumberbatch, John Cho, Zoe Saldana,
Simon Pegg, Bruce Greenwood, Peter Weller, Alice Eve, Anton Yelchin.
Genre: Science Fiction, Drama, Action, Adventure, Romance.
Rating: Remaja, karena adanya beberapa adegan cukup menganggu dan ada unsur seksualitas


"Is It Anything You Would Not Do... For Your Family?"



Film ini merupakan film yang dinantikan selama kurang lebih 4 tahun lamanya semenjak Star Trek (2009) release. Star Trek merupakan sebuah reboot dari franchise berjudul sama yang sudah menjadi cult dan memiliki banyak fans juga mempengaruhi kultur. Pelakunya tidak lain adalah J.J Abrams yang bertanggung jawab atas kebangkitan Star Trek setelah sempat mati suri selama beberapa tahun. Kali ini, Kru Enterprise akan mengalami suatu cobaan yang tidak hanya berpengaruh pada Starfleet namun juga Kirk,Spock yang harus berjuang dan pengorbanan yang dihadapi oleh mereka. Untuk sekuelnya, ada penambahan aktor yaitu Benedict Cumberbatch, Alice Eve dan Peter Weller.


Kirk mengomandoi misi  Akan tetapi, oleh suatu tindakannya dia di panggil oleh Christopher Pike yang menganggap Kirk tidak memiliki kredibilitas untuk menjadi seorang kapten. Sementara itu, penyerangan di London yang diduga dalangnya yaitu John Harrison. Harrison menjadi orang yang dicari oleh Starfleet hingga Kirk pun memutuskan untuk mengejarnya bersama kru Enterprise. Setelah berhasil menangkap Harrison, ternyata ada suatu hal tersembunyi yang membuat Kirk, Spock, Uhura dan lainnya harus berpikir keras untuk menghadapi semuanya ini. Bahkan mereka pun harus siap berkorban dan kuat menghadapi cobaan ini... untuk mereka.

Setelah mengalami sebuah reboot/dimulai dari awal kembali dan memberikan nuansa segar dan juga cerita yang lebih bisa diterima, Star Trek melanjutkan suatu fondasi awal yang sudah bagus ke tingkat level yang berbeda. Saya sendiri termasuk menunggu dan juga berharap bahwa film ini minimal, bisa sebagus Star Trek. Kenyataannya, Into Darkness memberikan suatu peningkatan dari segi manapun. Sejak awal film sudah digeber mengenai tensi yang semakin lama, semakin membuat penasaran. Tidak ada kebosanan berarti selama saya menontonnya. Beberapa adegan aksi dan dramanya juga dikomposisikan dengan pas.

Harus diamini, bahwa film ini sendiri memiliki cast yang banyak. Namun, jelas paling diutamakan adalah Chris Pine, Zachary Quinto, Zoe Saldana dan Benedict Cumberbatch. Saya terkaget ketika melihat performa Pine yang malah lebih baik dan semakin menyatu dengan karakternya. Sebagai seorang pemimpin yang tetap semaunya sendiri namun tetap bertanggung jawab. Disinilah, momen dimana transformasi seorang Captain James T Kirk ini dipersonifikasikan dengan keren. Quinto sebagai Spock, juga memberikan suatu scene yang menarik hati kita untuk mengetahui bagaimana ia bisa bekerja sama dengan Kirk dan juga, bagaimana meyakinkannya dia. Sebagai Uhura, Saldana juga bagus. Romansa dengan Spock pun tidak berlebihan. Sebagai penjahat utama di film ini, Benedict Cumberbatch bisa dibilang sangat mengintimidasi, sangat laten dalam kejahatannya. Dengan sukses pula saya malah membenci karakter John Harrison ini. Entah apa jadinya kalau Benicio del Toro yang menjadi Harrison, justru Benedict mencipatakan suatu kengerian dalam beberapa momen. John Cho sebagai Sulu yang tidak hanya itu-itu saja melainkan terdapat tantangan lainnya yang ia hadapi.  Karl Urban sebagai Dr. Leonard 'Bones' McCoy  justru menjadi scene stealer dalam film ini. Ia memberikan dialog-dialog dan interaksi yang menarik. Simon Pegg juga, sama lucunya malahan porsinya melebihi film pertama. Anton Yelchin juga walaupun tidak memiliki porsi yang banyak, ada beberapa momentum yang anda akan suka. Untuk Alice Eve dan Peter Weller, mereka berdua juga memberikan akting yang bagus. Hampir seluruh cast memiliki chemistry yang bagus sekali.


J.J Abrams menanggung beban berat setelah kesuksesan Star Trek pertama. Belum lagi banyak ekspetasi dari Trekker/Trekkies (penggemar Star Trek) maupun penonton umum yang sudah menonton film pertamanya. Abrams pun menjawab keraguan akan sekuel buruk dengan memberikan suatu cerita yang lebih dalam dalam karakteristik kru Enterprise ini. Beberapa adegan aksi memberikan momen yang membuat saya harus menahan nafas saking seru dan menegangkannya film ini. Berterima kasihlah kepada Roberto Orci, Alex Kurtzman & Damon Lindelof yang meningkatkan level penceritaannya, bahkan lebih bagus daripada Star Trek. Mereka membuat saya termanjakan dengan setiap adegan-adegan dan cerita yang enak untuk dicerna bahkan untuk penonton awam sekalipun. Ya, disinilah yang harus patut dipuji dimana mereka semakin membuat orang-orang untuk lebih menyukai Star Trek lagi. Spesial efek disinipun bagus dan efek 3D nya juga lumayan keren untuk sebuah konversi. Michael Giacchino, lagi-lagi membuat saya terpesona dengan setiap momen yang dibalut scoring musiknya yang benar-benar menyatu. Melodius dan juga membahana, Giacchino juga membuat saya merinding. Well done, Giacchino


Sebagai sebuah sekuel, Star Trek memberikan sebuah level berbeda dan kemajuan. Bahkan akan sangat menarik lagi untuk menunggu kisah lanjutannya. Abrams paham betul, bagaimana cara menarik hati setiap penontonnya untuk mengikuti kisah di film ini. Pemilihan cast yang bagus terutama Benedict Cumerbatch juga Chris Pine, cerita yang lebih keren, dan scoring yang dahsyat dari Giacchino. Star Trek Into Darkness merupakan salah satu film terbaik di tahun 2013. A Well Recomended!

Score: 4,75/5

Sunday, May 12, 2013

Review: Traffic (2000)

Director: Steven Soderbergh
Screenplay: Stephen Gaghan
Cast: Michael Douglas, Don Cheadle, Benidio del Toro, Dennis Quaid and Catherine Zeta Jones
Based on miniseries in UK: Traffik written by Simon Moore
Genre: Drugs Problem, Drama.
Genre: Film ini untuk dewasa karena adanya pembahasan mengenai
narkoba dan adegan kekerasan juga muatan seksual.




"Bahwa Narkoba pun sudah menjangkit, sulit untuk terlepas atau tidak terlibat didalamnya"

Soderbergh dikenal lewat karyanya yaitu Ocean's Trilogy, namun sebelumnya ia sudah membuat Erin Brokovich dan Traffic yang mendapat pujian dari kritikus dan beberapa penghargaan bergengsi. Traffic direlease berbarengan tahunnya dengan Requiem for a Dream yang juga mengulas tentang bahaya narkoba. Pemain di film ini ad 5 karakter dan mengambi 3 sisi cerita yang disatukan. Penceritaan yang sulit dieksekusi, namun disinilah tantangan Soderbergh.
Dalam setting cerita di meksiko, Javier Rodriguez merupakan polisi yang berduet dengan Manolo Sanchez. Berdua, mereka selau beraksi dalam menghentikan setiap pengiriman dan perdagangan narkoba yang melintas ke Meksiko. Sementara di Amerika Serikat sendiri, seorang hakim dari Ohio bernama Robert Wakefield yang juga bertugas dalam membrantas narkoba. Ia pun diutus sebagai kepala bagian pengkontrolan narkoba, dimana ia sudah diperingatkan bahwa masalah ini merupakan racun yang sulit untuk dihilangkan. Masalahnya, bukan hanya narkoba. Melainkan didalam friksi keluarganya juga. Untuk cerita di San Diego, Polisi berkeahlian khusus dalam bagian pengintaian DEA yaitu Ray Castro dan Montel Gordon bertugas dalam kasus Ayala. Ayala merupakan tersangka dalam keterlibatan perdagangan narkoba dan Ray juga Gordon bertugas untuk mengintai istri Ayala untuk mencegah hal buruk terjadi. Mereka semua bermasalah dengan narkoba, dan apakah permasalahan ini memang tidak memiliki titik terang?

Tipikal film seperti Traffic dengan istilah Hyperlink Cinema, dimana ceritanya saling terhubung dalam satu kejadian/masalah. Sesungguhnya hal ini memang cukup sulit dalam eksekusinya dan bisa dikatakan Traffic berhasil mewujudkannya. Setiap struktur dibangun dengan fondasi yang kuat dari awal adegan dan menghubungkan masing-masing event cerita ini dengan terukur. Mungkin akan sedikit bingung akan fokus cerita yang terbagi ini, tapi bagi anda yang suka dengan tipikal film ini tidak akan dikecewakan.


Saya senang dengan performa Douglas, Cheadle, Catherine, Benicio dan Quaid. Douglas prima sebagai seorang pejabat hukum yang harus melawan dari segi konstitusional tapi seakan lalai dalam menghadapi masalah dalam keluarganya, Cheadle memberikan penampilan yang cerdik sebagai polisi DEA, Montel yang harus bekerja duet dengan Luiz Gusman. Bisa dikatakan, kedua karakter ini memang mencuri perhatian sekali. Kelucuannya justru menjadi menambah karakteristik dalam film ini. Jones pun tidak bisa dikesampingkan, sebagai seorang istri yang berusaha tegar dalam ikatan buruk dalam hal jurang narkoba ini. Quaid sendiri berperan sebagai pengacara yang membela Ayala, juga menampilkan peran yang simpatik namun beracun. Oh ya, jangan lupa disini ada Topher Grace yang melakukan debutnya di dunia perfilman. Walaupun tidak banyak adegan, tapi bisa mengimbangi akting di film ini.

Saya melihat ada yang unik dalam film ini, pembagian 3 karakter warna di tiga penceritaan. Dalam hal ini menjadikan Traffic jauh lebih kuat juga dalam sinematografinya. Bahkan 'permainan' di bagian inilah kekuatan penceritaan Traffic menjadi lebih kuat. Soderberg sendiri tidak membiarkan penontonnya melalaikan tokoh yang hanya pendukung, ia juga ingin penonton memberikan perhatian khusus. Karena bagian ini juga merupakan bagian penting dalam penceritaan. Diisi dengan plot yang kuat dan berani ini memang pilihan jitu. Unsur scoring dalam film ini yang dikerjakan oleh Cliff Martinez memang tidak banyak. Akan tetapi keluar pada momen yang pas dan tidak berlebihan, malahan di beberapa scene sangat syahdu dan bagus.
Overall, Traffic merupakan film yang bukan hanya menceritakan pesan namun juga kaidah dalam perfilmannya itu sendiri. Bagaimana narkoba yang menjadi fokus, bukanlah masalah adiksinya saja namun permasalahan yang terjadi pada lingkungan sekitar. Soderbergh melakukan tugasnya, dengan indah. A Well Recomended.


Score: 4,5/5

Saturday, May 11, 2013

Review: Iron Man 3 (2013)

Director: Shane Black
Cast: Robert Downey Jr, Don Cheadle, Guy Pearce, Gwyneth Paltrow,
Sir Ben Kingsley, Jon Favreu and Paul Bettany as Jarvis

Genre: Superhero, Drama, Action, Romance.

*Film ini ditujukan pada golongan remaja karena adanya beberapa adegan kekerasan dalam aksi dan juga adegan mesra.



"Tony Stark battle's, for his trauma and the one he must protect"
Marvel Studio membuka semua jalan untuk seluruh superhero yang tidak terkenal gaungnya lewat Iron Man pada tahun 2008 dan mendapat sambutan yang luar biasa. Hingga pada sekuelnya, Iron Man 2 yang cukup medioker dan biasa-biasa saja. Namun, pada The Avengers Iron Man pun mendapat eksplorasi yang bagus. Kini sebagai pembuka Phase 2, Iron Man 3 disutradarai oleh Shane Black dan masih memakai cast lama nya ditambah Sir Ben Kingsley serta Guy Pearce. Dengan nuansa kekelaman yang ditonjolkan, Iron Man 3 memiliki beban dan ekspetasi yang besar pasca kesuksesan The Avengers.
Tony Stark mengalami mimpi buruk dan trauma setelah kejadian pertempuran di New York. Ia lalu membuat banyak armor sebagai perlindungan, yang justru membuat Happy bahkan Pepper Pots mengkhawatirkannya. Mandarin, seorang penjahat yang tiba-tiba melakukan penyerangan secara membabi buta. Sementara itu, Maya Hansen teman Tony menawarkan bantuan kepada si pria eksentrik ini. Selain itu, Aldrich Killian memiliki inovasi yaitu EXTRIMIS yang memberikan evolusi terbaru pada umat manusia. Dibalik itu semua, Aldrich berusaha menyaingi kehebatan Tony. Dari semua masalah yang mendera ini, memberikan pertanyaan pada dirinya: Apakah ia yang menjadikan Iron Man atau Kostum itu yang membentuk Tony?

Sebagai suatu hal yang lumrah terjadi, semakin menerusnya sekuel pastinya akan ada persepsi apakah film ini akan lebih sukses atau lebih buruk lagi? Namun rupanya Shane Black memberikan sesuatu hal yang berbeda dari kebanyakan film superhero lainnya dengan menambah bumbu yang lain dari yang lain. Bagian cerita di film ke tiga ini memang terasa segar. Unsur suspense yang dikedepankan serta psikologi Tony yang dieksplorasi, iniah bumbu baru untuk IM3. Dari pembuka sudah terdengar narasi Tony, tidak seperti biasanya.
Saya pun mengakui, bahwa Tony Stark adalah Robert Downey Jr. Begitupun sebaliknya, dimana imej ini sudah kadung melekat pada Downey Jr. Ia semakin melebur dengan karakternya, dan memberikan penampilannya yang cemerlang. Bagaimana ia menghadapi rasa trauma itu, bagaimana ia melawan semua yang berusaha menjatuhkannya. Don Cheadle juga baik sekali, sebagai Rhodes yang disini lebih bagus lagi chemistrynya antara dia dan Tony. Gwyneth Paltrow? Nah, disinilah akhirnya dia bukan sebagai pemanis belaka Nantikan kejutan dimana dia akan menjadi heroine yang keren. Ben Kingsley? Memukau sebagai Mandarin, ia memberikan suatu kengerian dari seluruh tindak tanduknya. Sementara pujian lebih ditujukan pada Guy Pearce, sebagai Aldrich ia mempesona. Intimidasinya dan cocok sekali sebagai seorang yang intelek. Ya, hampir semua cast bermain prima walaupun ada beberapa tokoh yang agak minor, tapi termaafkan karena sama bagusnya

Tensi film dibangun dengan perlahan tapi pasti, Iron Man 3 menyajikan setiap momennya dengan tepat. Ia pun tidak terjebak dengan pakem superhero lainnya dan semakin memberikan identitas tersendiri. Bahkan pada final battle nya, diluar dugaan sangat seru dan menakjubkan. Aplaus yang meriah kepada Shane Black yang menuangkan cerita yang membuat Tony Stark sebagai jagoan keren, baik memakai kostum atau tidak. Ia memberikan porsi yang cukup merata, tapi tetap Tony merupakan sentral yang dominan. Saya suka dengan spesial efek di film ini, lebih halus dan juga kadarnya pas. Sehingga tidak ada tumpang tindih antara spesial efek, aksi dan penceritaan. Satu lagi yang membuat saya suka, justru di bagian musik unsur rock yang kental malah hilang diganti scoring yang membahana. Pujian ini harus ditujukan kepada Bryan Tyler, yang memberikan theme yang asyik untuk film ini.
Overall, Iron Man 3 merupakan paket yang memang sulit ditolak, memiliki integritas tersendiri dan juga film superhero yang bagus. Entah apa jadinya apabila Downey Jr. tidak menjadi Tony Stark. Sebuah pembuka film musim panas yang bisa saya bilang, sukses. A Well Recomended!
Score: 4,5/5