Sunday, May 12, 2013

Review: Traffic (2000)

Director: Steven Soderbergh
Screenplay: Stephen Gaghan
Cast: Michael Douglas, Don Cheadle, Benidio del Toro, Dennis Quaid and Catherine Zeta Jones
Based on miniseries in UK: Traffik written by Simon Moore
Genre: Drugs Problem, Drama.
Genre: Film ini untuk dewasa karena adanya pembahasan mengenai
narkoba dan adegan kekerasan juga muatan seksual.




"Bahwa Narkoba pun sudah menjangkit, sulit untuk terlepas atau tidak terlibat didalamnya"

Soderbergh dikenal lewat karyanya yaitu Ocean's Trilogy, namun sebelumnya ia sudah membuat Erin Brokovich dan Traffic yang mendapat pujian dari kritikus dan beberapa penghargaan bergengsi. Traffic direlease berbarengan tahunnya dengan Requiem for a Dream yang juga mengulas tentang bahaya narkoba. Pemain di film ini ad 5 karakter dan mengambi 3 sisi cerita yang disatukan. Penceritaan yang sulit dieksekusi, namun disinilah tantangan Soderbergh.
Dalam setting cerita di meksiko, Javier Rodriguez merupakan polisi yang berduet dengan Manolo Sanchez. Berdua, mereka selau beraksi dalam menghentikan setiap pengiriman dan perdagangan narkoba yang melintas ke Meksiko. Sementara di Amerika Serikat sendiri, seorang hakim dari Ohio bernama Robert Wakefield yang juga bertugas dalam membrantas narkoba. Ia pun diutus sebagai kepala bagian pengkontrolan narkoba, dimana ia sudah diperingatkan bahwa masalah ini merupakan racun yang sulit untuk dihilangkan. Masalahnya, bukan hanya narkoba. Melainkan didalam friksi keluarganya juga. Untuk cerita di San Diego, Polisi berkeahlian khusus dalam bagian pengintaian DEA yaitu Ray Castro dan Montel Gordon bertugas dalam kasus Ayala. Ayala merupakan tersangka dalam keterlibatan perdagangan narkoba dan Ray juga Gordon bertugas untuk mengintai istri Ayala untuk mencegah hal buruk terjadi. Mereka semua bermasalah dengan narkoba, dan apakah permasalahan ini memang tidak memiliki titik terang?

Tipikal film seperti Traffic dengan istilah Hyperlink Cinema, dimana ceritanya saling terhubung dalam satu kejadian/masalah. Sesungguhnya hal ini memang cukup sulit dalam eksekusinya dan bisa dikatakan Traffic berhasil mewujudkannya. Setiap struktur dibangun dengan fondasi yang kuat dari awal adegan dan menghubungkan masing-masing event cerita ini dengan terukur. Mungkin akan sedikit bingung akan fokus cerita yang terbagi ini, tapi bagi anda yang suka dengan tipikal film ini tidak akan dikecewakan.


Saya senang dengan performa Douglas, Cheadle, Catherine, Benicio dan Quaid. Douglas prima sebagai seorang pejabat hukum yang harus melawan dari segi konstitusional tapi seakan lalai dalam menghadapi masalah dalam keluarganya, Cheadle memberikan penampilan yang cerdik sebagai polisi DEA, Montel yang harus bekerja duet dengan Luiz Gusman. Bisa dikatakan, kedua karakter ini memang mencuri perhatian sekali. Kelucuannya justru menjadi menambah karakteristik dalam film ini. Jones pun tidak bisa dikesampingkan, sebagai seorang istri yang berusaha tegar dalam ikatan buruk dalam hal jurang narkoba ini. Quaid sendiri berperan sebagai pengacara yang membela Ayala, juga menampilkan peran yang simpatik namun beracun. Oh ya, jangan lupa disini ada Topher Grace yang melakukan debutnya di dunia perfilman. Walaupun tidak banyak adegan, tapi bisa mengimbangi akting di film ini.

Saya melihat ada yang unik dalam film ini, pembagian 3 karakter warna di tiga penceritaan. Dalam hal ini menjadikan Traffic jauh lebih kuat juga dalam sinematografinya. Bahkan 'permainan' di bagian inilah kekuatan penceritaan Traffic menjadi lebih kuat. Soderberg sendiri tidak membiarkan penontonnya melalaikan tokoh yang hanya pendukung, ia juga ingin penonton memberikan perhatian khusus. Karena bagian ini juga merupakan bagian penting dalam penceritaan. Diisi dengan plot yang kuat dan berani ini memang pilihan jitu. Unsur scoring dalam film ini yang dikerjakan oleh Cliff Martinez memang tidak banyak. Akan tetapi keluar pada momen yang pas dan tidak berlebihan, malahan di beberapa scene sangat syahdu dan bagus.
Overall, Traffic merupakan film yang bukan hanya menceritakan pesan namun juga kaidah dalam perfilmannya itu sendiri. Bagaimana narkoba yang menjadi fokus, bukanlah masalah adiksinya saja namun permasalahan yang terjadi pada lingkungan sekitar. Soderbergh melakukan tugasnya, dengan indah. A Well Recomended.


Score: 4,5/5

Saturday, May 11, 2013

Review: Iron Man 3 (2013)

Director: Shane Black
Cast: Robert Downey Jr, Don Cheadle, Guy Pearce, Gwyneth Paltrow,
Sir Ben Kingsley, Jon Favreu and Paul Bettany as Jarvis

Genre: Superhero, Drama, Action, Romance.

*Film ini ditujukan pada golongan remaja karena adanya beberapa adegan kekerasan dalam aksi dan juga adegan mesra.



"Tony Stark battle's, for his trauma and the one he must protect"
Marvel Studio membuka semua jalan untuk seluruh superhero yang tidak terkenal gaungnya lewat Iron Man pada tahun 2008 dan mendapat sambutan yang luar biasa. Hingga pada sekuelnya, Iron Man 2 yang cukup medioker dan biasa-biasa saja. Namun, pada The Avengers Iron Man pun mendapat eksplorasi yang bagus. Kini sebagai pembuka Phase 2, Iron Man 3 disutradarai oleh Shane Black dan masih memakai cast lama nya ditambah Sir Ben Kingsley serta Guy Pearce. Dengan nuansa kekelaman yang ditonjolkan, Iron Man 3 memiliki beban dan ekspetasi yang besar pasca kesuksesan The Avengers.
Tony Stark mengalami mimpi buruk dan trauma setelah kejadian pertempuran di New York. Ia lalu membuat banyak armor sebagai perlindungan, yang justru membuat Happy bahkan Pepper Pots mengkhawatirkannya. Mandarin, seorang penjahat yang tiba-tiba melakukan penyerangan secara membabi buta. Sementara itu, Maya Hansen teman Tony menawarkan bantuan kepada si pria eksentrik ini. Selain itu, Aldrich Killian memiliki inovasi yaitu EXTRIMIS yang memberikan evolusi terbaru pada umat manusia. Dibalik itu semua, Aldrich berusaha menyaingi kehebatan Tony. Dari semua masalah yang mendera ini, memberikan pertanyaan pada dirinya: Apakah ia yang menjadikan Iron Man atau Kostum itu yang membentuk Tony?

Sebagai suatu hal yang lumrah terjadi, semakin menerusnya sekuel pastinya akan ada persepsi apakah film ini akan lebih sukses atau lebih buruk lagi? Namun rupanya Shane Black memberikan sesuatu hal yang berbeda dari kebanyakan film superhero lainnya dengan menambah bumbu yang lain dari yang lain. Bagian cerita di film ke tiga ini memang terasa segar. Unsur suspense yang dikedepankan serta psikologi Tony yang dieksplorasi, iniah bumbu baru untuk IM3. Dari pembuka sudah terdengar narasi Tony, tidak seperti biasanya.
Saya pun mengakui, bahwa Tony Stark adalah Robert Downey Jr. Begitupun sebaliknya, dimana imej ini sudah kadung melekat pada Downey Jr. Ia semakin melebur dengan karakternya, dan memberikan penampilannya yang cemerlang. Bagaimana ia menghadapi rasa trauma itu, bagaimana ia melawan semua yang berusaha menjatuhkannya. Don Cheadle juga baik sekali, sebagai Rhodes yang disini lebih bagus lagi chemistrynya antara dia dan Tony. Gwyneth Paltrow? Nah, disinilah akhirnya dia bukan sebagai pemanis belaka Nantikan kejutan dimana dia akan menjadi heroine yang keren. Ben Kingsley? Memukau sebagai Mandarin, ia memberikan suatu kengerian dari seluruh tindak tanduknya. Sementara pujian lebih ditujukan pada Guy Pearce, sebagai Aldrich ia mempesona. Intimidasinya dan cocok sekali sebagai seorang yang intelek. Ya, hampir semua cast bermain prima walaupun ada beberapa tokoh yang agak minor, tapi termaafkan karena sama bagusnya

Tensi film dibangun dengan perlahan tapi pasti, Iron Man 3 menyajikan setiap momennya dengan tepat. Ia pun tidak terjebak dengan pakem superhero lainnya dan semakin memberikan identitas tersendiri. Bahkan pada final battle nya, diluar dugaan sangat seru dan menakjubkan. Aplaus yang meriah kepada Shane Black yang menuangkan cerita yang membuat Tony Stark sebagai jagoan keren, baik memakai kostum atau tidak. Ia memberikan porsi yang cukup merata, tapi tetap Tony merupakan sentral yang dominan. Saya suka dengan spesial efek di film ini, lebih halus dan juga kadarnya pas. Sehingga tidak ada tumpang tindih antara spesial efek, aksi dan penceritaan. Satu lagi yang membuat saya suka, justru di bagian musik unsur rock yang kental malah hilang diganti scoring yang membahana. Pujian ini harus ditujukan kepada Bryan Tyler, yang memberikan theme yang asyik untuk film ini.
Overall, Iron Man 3 merupakan paket yang memang sulit ditolak, memiliki integritas tersendiri dan juga film superhero yang bagus. Entah apa jadinya apabila Downey Jr. tidak menjadi Tony Stark. Sebuah pembuka film musim panas yang bisa saya bilang, sukses. A Well Recomended!
Score: 4,5/5

Friday, May 10, 2013

Review: What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)

Director & Writer: Mouly Surya
Cast: Nicholas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupta Jennifer

Genre: Surealis, Romance, Drama.

Ket: Film ini untuk dewasa karena ada adegan intim yang cukup eksplisit


Sejujurnya, saya sangat bosan dengan beberapa film Indonesia yang bergenre horsex, cinta yang sudah banyak rumus selalu sama yang menjamur beberapa tahun belakangan ini. Termasuk film reliji yang makin tidak ada juntrungannya. Akhirnya, ada film yang menghapus dahaga saya: What They Don't Talk About When They Talk About Love. Judul yang panjang bukan? Film ini merupakan film pertama yang masuk ke Sundance Festival. Untuk pemerannya, ada bintang kesayangan Nicholas Saputra dan Ayushita serta Karina Salim, Lupita Jennifer dan Anggun Priambodo.


Alkisah, di sekolah luar biasa terdapat siswa-siswi yang memiliki masing-masing kekurangan fisik. Namun beberapa diantara mereka mencari sebuah identitas, yaitu cinta. Ada Diana yang mengalami low vision, Andhika yang buta totat juga Fitri mengalami hal sama yang bersekolah di tempat itu. Ada juga Maya dan Edo, seorang pemuda yang tuli berjualan minuman bersama ibunya. Dengan kekurangan fisik itu semua, apakah keterbatasan itu menghalangi mereka untuk meraih sebuah hal bernama: romansa cinta?

Sebuah film yang cukup berani dalam mengambil cerita cinta yang berbeda. Mouly Surya yang menggarap film ke dua nya setelah Fiksi memberikan sebuah film yang menurut saya berhasil mengambil 'jalan yang berbeda'. Ia mencari sebuah kisah baru mengenai cinta yang tidak umum, bahkan mengeksplor orang-orang yang mengalami kekurangan fisik. Justru, ia dengan cerdas mengolah sesuatu hal dari elemen-elemen itu menjadi suatu bumbu lama menjadi lebih inovatif. Ia pun mengedepankan persona dan membagi rata setiap karakter sehingga tidak ada tumpang tindih. Hampir semua cast bermain cemerlang. Tidak ada keraguan bagi saya untuk memberikan aplaus pada kelima aktor/aktris itu. Yang sangat mencuri perhatian jelas Karina Salim sebagai Diana. Ia merupakan aktris yang masih 'hijau' namun memberikan esensi kekuatan lebih pada karakternya.
Pergerakan film ini sejujurnya bukanlah suatu plot yang renyah untuk dinikmati penonton awam kita. Alur yang tidak tertebak dan juga banyaknya long take scene yang sebenarnya sangat fresh. Banyaknya muatan filosofis dan juga surealisme yang sebenarnya masih jarang ada pada sinema di Indonesia. Alunan musiknya yang klasik bahkan memberikan nostalgia tersendiri untuk saya sehingga memberikan kesan yang mendalam. Elemen ini sedikit mengingatkan saya pada Syndrome and a Century karya Apichatpong Weerasethakul, sama-sama surealis.


Overall, film ini merupakan film yang sangat layak untuk ditonton walaupun tidak semua penonton akan suka dan terbiasa dengan tipe genre ini. Sebuah tontonan yang memberikan keindahan, kekuatan akan dunia sinema yang berbeda dan surealisme akan makna cinta. Salah satu film terbaik dari negeri kita yang saya suka. A Well Recomended.

 Score: 4,5/5
Sedikit oleh-oleh dari nonton bareng film ini di Blitz Megaplex Paris Van Java:
Bersama Mouly Surya, Sutradara dan Penulis dari WTDTAWTTAL
Bersama Nicholas Saputra, pemeran Edo di WTDTAWTTAL

Bersama Karina Salim, pemeranDiana di WTDTAWTTAL