Thursday, July 20, 2017

Review: Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad (2017)


Crossover di dunia tokusatsu memang sudah sangat lazim dan semakin ramai dalam kurun waktu 8 tahun belakangan ini. Baik crossover franchise Sentai, dengan Kamen Rider atau malah dengan Metal Heroes. Namun seakan berusaha lagi menghadirkan sesuatu hal yang berbeda, Toei kini membuat kembali crossover Sentai dengan Metal Heroes lewat Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad (2017).  Sebelumnya Gavan pernah melakukan crossover dengan Kyoryuger, Go-Buster dan Gokaiger walaupun dalam judul yang terakhir ini masih berfokus pada original Gavan. Dibesut oleh sutradara kawakan Koichi Sakamoto, apakah Space Squad memberikan kemagisan lainnya di dunia tokusatsu? 


Film ini memiliki sebenarnya memiliki fondasi yang sudah sangat umum tentunya dalam format crossover: Salah Paham. Untungnya pengarahan ceritanya tidak seklise crossover lainnya. Adanya konflik yang menggigit ditambah teka-teki yang memang terasa tepat untuk film ini. Dari awal sampai akhir saya tersenyum-senyum dan umringah dengan alurnya yang mengasyikkan. Walaupun lebih agak dewasa secara penggambaran ceritanya, namun Space Squad mengedepankan unsur aksi yang kental apalagi Sakamoto mengarahkannya dengan elegan. Sajian pertarungan pamungkasnya juga dihidangkan dengan manis dan juga memorable dengan berbagai gimmick scene yang memanjakan mata. Tambah lagi pose dari hero baik Gavan dan Dekaranger yang Sakamoto paham betul akan role call yang bagus. Pun demikian, villain di sini juga tidak kalah dengan heronya. Madgallant tidak hanya mengancam namun juga memberikan perlawanan dan juga hawa mengerikan. Adegan akhir filmnya seakan membuka sebuah ruang yang tidak terduga bagi saya, dan mungkin menjadi bagian yang sangat menarik jika film ini sukses. 


Adapun hal lainnya yang patut diperhatikan di sini adalah bagaimana Sakamoto dan penulis Space Squad, Narushia Arakawa memberikan keadilan bagi Geki dan Gavan terbaru. Setelah film Gavan the Movie yang flop dan kurang mendapat sambutan baik, di sinilah karakternya mendapatkan momentumnya. Malahan di sinilah 'passing the torch' dirinya dengan Retsu Ichijouji (original Gavan) lebih memorable. Kehadiran Kenji Ohba yang hanya sekilas namun tentunya tetap saja memperlihatkan aksi yang menawan. 


Dekaranger di satu sisi, juga bisa berbaur dengan karakter Geki di sini. Semua karakternya tetap sama personanya walaupun tentu ada perkembangan yang juga pas di mana mereka bisa dibilang lebih senior dari Gavan Type-G. Sajian pernikahan Umeko dan Sen juga BanBan yang lebih matang sebagai Deka Red Fire Squad menjadi dua poin penting yang menambah semaraknya Space Squad. Tidak ada berat sebelah malahan kerjasama mereka semua padu sekali. 


Sempat skeptis karena beberapa karyanya belakangan yang menurun, saya kemudian tersenyum puas akhirnya di mana Sakamoto akhirnya kembali ke performa terbaiknya. Menyuguhkan aksi dan drama dengan komposisi yang berimbang. Bahkan bisa dibilang di sini style-nya terasa berbeda termasuk dalam pengambilan gambar yanh jujur saya acungi dua jempol di sini. Arakawa yang menulis ceritanya juga secara mengejutkan mampu mengolah cerita Space Squad yang walaupun sederhana namun memiliki daya taring yang kuat. Scoring musiknya di sini juga dengan piawai menyesuaikan scene di Space Squad ditambah ending song dari YOFFY dan Akira Kushida berjudul "SPACE SQUAD" juga membuat filmnya bertambah gemilangnya. 


Akhir kata, Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad merupakan crossover yang amat penting, percaya diri dan juga hebat. Kudos kepada Koichi Sakamoto yang mengarahkan filmnya dengan apik juga cast Gavan-Dekaranger yang bermain dengan gemilang. Fantastic Crossover!

Tuesday, July 11, 2017

Review: Kamen Rider Amazons Season 2 (2017)



Note: serial ini ditujukan untuk usia 17 tahun keatas dan bukan untuk anak-anak.

Agak jarang nampaknya Toei membuat sebuah sekuel untuk seri Kamen Rider, ya jarang. Namun kesuksesan Kamen Rider Amazons di tahun 2016 membuat Toei dan Amazon Prime percaya diri untuk kembali melanjutkan kisahnya dengan Yasuko Kobayashi melanjutkan perannya sebagi penulis cerita di Season 2. 



Adalah hal yang mengagetkan di mana Amazons Season 2 memutuskan memberikan time skip 5 tahun pasca kejadian Project Tlaloc. Uniknya adalah POV yang diubah di mana ada dua karakter baru dan 1 karakter pendukung utama yaitu Chihiro, Iyu dan Kurosaki yang terlihat dominan di season 2. Saya sempat kebingungan karena awal episode nya justru tidak terlihat sebagai sebuah kelanjutan. Pelan namun pasti, Kobayashi kembali menghadirkan karakter dari season 1 sehingga semakin jelas bahwa memang ini adalah bagian berikutnya dari karakter mereka. Kegilaan dari musim kedua Amazons adalah kesadisan yang cukup brutal dan eksplisit. Memang hal ini sudah umum bagi genre gore namun sadisme di sini menekankan ke arah psikologis, bukan secara visual semata. 




Ledakan dahsyat dari season ini adalah di episode 8, di mana episode ini merupakan titik apa yang sebenarnya terjadi dalam kejadian lima tahun pasca Tlaloc. Di sinilah Kobayashi kemudian memainkan kartu As nya, menghajar keputus asaan dan kepahitan dari Amazons. Pada musim sebelumnya, pendekatannya lebih ke perburuan dan tensi yang cepat. Namun seperti yang saya sebutkan di atas, Kobayashi mengubah temanya menjadi imbas yang amat menyakitkan. Semua ini pun terjawab di episode akhirnya di mana Kobayashi tidak bermain di pesan moral, namun menanyakan apa itu 'manusia'. Dampak episode 13 ini bagi saya pun sangat dahsyat, di mana endingnya justru menghajar nurani dan kemanusiaan itu sendiri.




Hampir seluruh cast memberikan penampilan yang apik. Namun kemajuan tetap dihadirkan di karakter Mizuki dan Haruka. Sebelumnya mereka terlihat muda dan naif, di musim ini kedewasaan mereka diuji di mana Rena Takeda dan Tom Fujita menghadirkan chemistry yang apik. You Maejima dan Ayana Shiramoto juga memberikan impresi yang cemerlang sebagai Chihiro dan Iyu di mana saya merasa simpatik oleh kedua karakter ini. Begitu pun Masashi Tanaguchi dan Aya Higashi yang semakin memikat sebagai Jin dan Nanaha di mana kepedihan dan 'dosa' yang ada dalam karakter mereka juga terpancar dengan jelas. Namun jelas yang harus amat dipuji adalah Kouta Miura yang berhasil memerankan Kurosaki. Keabsolutan dan tanpa pandang bulunya diperlihatkan dengan lugas oleh Miura. 




Bicara soal aksi, Amazons Season 2 mengalami peningkatan walaupun tidak seintens season 1. Akan tetapi, tempo cepat yang dimainkan dalam 5 episode akhirnya terlihat memorable dengan banyak aksi yang lebih mengedepankan dampak psikologisnya. Bahkan saya amat menyukai banyak momen henshin-nya, terutama Haruka di mana saya selalu menyukai pose henshin-nya itu. Lebih-lebih di episode 13, adegan henshin akhirnya itu justru menyakitkan. Tidak lupa, scoring musik di Season 2 juga amat pas dan "Die Set Down" yang dinyanyikan oleh Taro Kobayashi. sangat sesuai dengan temanya. Akan tetapi, Amazons Season 2 memberikan kejutan dengan sebuah Ending Song dari Saeko Suzuki dengan lagunya berjudul "Yagate Hoshi ga Furu". Lagu ini sebenarnya sudah 'dinyanyikan' oleh beberapa karakter di serialnya, namun lagu yang dibawakan oleh Suzuki ini justru penutup yang memang sempurna untuk Season 2 dari Amazons


Akhir kata, Kamen Rider Amazons Season 2 memberikan sebuah pandangan bahwa di sini bukanlah pahlawan-musuh, baik-jahat. Justru di musim ini Kobayashi menghajar paradigma itu dengan apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh mereka, apakah arti dari manusia dan humanisme itu sendiri. Sebuah kelanjutan yang amat memuaskan saya, Kamen Rider Amazons Season 2 merupakan salah satu kisah yang menamparkan sebuah kehidupan itu sendiri. Terima kasih kepada jajaran pemeran dan kru dari Amazons Season 2, juga Yasuko Kobayashi yang memberikan sebuah 'ironisme hidup' dari serialnya ini. 



......Yagate Hoshi ga Furu... Hoshi ga.. Furu.. Koro... Kokoro tokimeite.. tokimeite.. kuru..

Saturday, July 1, 2017

Review: Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legend Rider



Film ketujuh dari Movie Taisen yang dimulai dari tahun 2009 lewat Movie Taisen 2010 (2009) ini menjadi bagian yang spesial. Sebagai salah satu bagian perayaan 45 tahun Kamen Rider, Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legendary Rider digarap oleh sutradara Koichi Sakamoto dengan Yuya Takanashi (penulis serial Kamen Rider Ex-Aid) yang mengerjakan naskah kisahnya. Tidak hanya Ghost dan Ex-Aid saja, namun Heisei Generation juga menghadirkan kembali tiga kamen rider sebelumnya di era Heisei Phase 2. Tentu saja menjadi nilai plus bagi fans terdahulunya yang bisa kembali melihat karakter kamen rider favorit mereka.



Seperti halnya Movie Taisen Genesis, kisah dari filmnya sendiri sudah menyatu dan tidak terbagi beberapa bagian lagi. Namun demikian, sayangnya perubahan ini tidak memberikan efek signifikan banyak. Ceritanya bahkan terbilang biasa saja, meskipun terhubung ke baik Ex-Aid dan setelah serial Ghost. Musuhnya pun terbilang tidak mengintimidasi sama sekali, dan ya terlupakan begitu saja di mana padahal memasang unsur Pacman yang tidak menolong. Akan tetapi, ada sedikit homage dari kamen rider terdahulu yang fans mungkin akan menyadarinya.

Cast dari Ex-Aid hanya supporting chara saja yang bagus itupun tidak mendapat spot banyak, untungnya Ruka Matsuda (Poppy/Pipopap) dan Hayato Onozuka (Kujyo Kiriya/Kamen Rider Lazer) memberikan impresi yang bagus. Cast Ghost sudah membaik ketimbang di serialnya walaupun memang tidak sebegitu wah nya. Shunya Shiraishi yang kembali sebagai Haruto agak beda karakternya di sini malahan saya agak pangling melihatnya. Namun jelas di sini yang menjadi bintang utama justru Ryoma Takeuchi yang melanjutkan perannya sebagai Tomari Shinnosuke. Kehadirannya di sini terasa menyegarkan di tengah oase filmnya yang hambar ini.


Jualan utama dan ciri khas dari Koichi Sakamoto adalah aksi dan aksi. Sayangnya di sini penyutradaraannya mengalami penurunan ketimbang Megamax dan A to Z Unmei no Gaia Memory. Sutradara yang juga jebolan dari produksi Power Rangers ini seakan sulit mengarahkan ceritanya yang ditulis oleh Yuya Takanashi. Yuya pun nampaknya tidak menghadirkan cerita yang menarik dan bahkan terlupakan begitu saja. Oh ya, di sini komposisi musiknya memang kacau. Malahan menutup suara baik efek belt dan juga tidak terlalu sinkron dengan scene nya.


Akhir kata, Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legendary Rider merupakan film yang sayangnya terlalu menjual aksi dan ceritanya kurang tergali dengan baik. Namun demikian, hadirnya cast lamanya sedikit mengurangi  kekurangan filmnya dan tentunya bagian dari perayaan 45 tahun Kamen Rider ini justru hasil akhirnya kurang baik. Namun bagi yang menantikan film aksi khas Sakamoto mungkin akan tetap bisa menikmatinya walaupun bagi saya sendiri, film garapannya ini justru merupakan penurunan dari karyanya.

Thursday, June 15, 2017

Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2




Sekuel adalah kata yang menggembirakan atau mungkin akan mengecewakan orang-orang yang menonton dan menyukai film pertamanya. Perjudian yang kuat apakah mau menulis cerita yang sama, formula sama atau justru mengubahnya? James Gunn selaku sutradara kembali mengerjakan sekuel pertamanya yang diakuinya tidak mudah. Jadi bagaimanakah film ini akan menuju?


Film keduanya ini tidak ingin membuka lagi dengan cara siapa mereka, tapi mengeksplor lebih dalan makna keluarga dan tema lainnya, ayah dan anak. Saya agak terkaget dengan perubahan arah GotG Vol. 2 yang sangat jauh berbeda ketimbang film pertama. Mungkin sebelumnya lebih ke pertemuan mereka dan di sini, mengapa mereka semua ada dalam satu tim lebih diperjelas. Perlu diingat, formula ini mengingatkan saya akan Star Trek Beyond yang lebih menonjolkan keseragaman dan makna masing kru nya. Guardians akan tetapi, menggali apa yang terjadi dibalik kesintingan mereka selama ini. Begitu banyak konflik dan hebatnya Gunn bisa dengan rapih menerjemahkan berbagai plot nya.


Saya akui, agak bosan di bagian pertengahannya dan ternyata Gunn menjawabnya dengan kelugasan apa penyebab hal itu terjadi. Tidak tanpa alasan, bahkan Gunn dengan berani menghajar sebuah simbol tanpa ampun. Tema keluarga dan ayah anak justru sangat terkait dan inilah poin terhebat dari Guardians of the Galaxy Vol. 2. Closing scene nya dengan diiringi Cat Stevens - Father and Son merupakan penutup dahsyat yang mengharukan dan juga merupakan klimaks yang menyentuh.

Ensemble  Vol. 2 nya ini semuanya bermain bagus. Saya bisa melihat apa penyebab mereka suka bertikai, juga saling mengumpat. Semua karakternya saya suka aktingnya even Kurt Russell juga meyakinkan sebagai Ego. Chris Pratt, Zoe Saldana, Vin Diesel, dan Bradley Cooper memberikan peningkatan karakter mereka. Sama halnya dengan Karren Gillian yang memperlihatkan sisi lain dari Nebula dan Pom Klementieff yang tampil apik sebagai Mantis. Tapi jika saya harus memuji lebih, adalah Michael Rooker sebagai Yondu yang tampil hebat di sini. Karakternya yang berubah tajam di sini dan akting Rooker patut diapresiai. Belum lagi cameo-cameo di sini juga tidak sekedar numpang lewat belaka. Kehadiran Sylvester Stallone beserta kejutan lainnya di film ini seakan menjadi 'tongkat estafet' yang disajikan dengan manis. 


Belum puas rasanya saya memuji Gunn di sini. Di sini ia tidak berbohong perihal tema keluarganya, penggalian mendalam membuat GotG Vol. 2 bukan hanya sekedar film aksi komik begitu saja. namun melebihi itu. Kekuatan emosional tiap karakter berhasil ia arahkan dengan maksimal. Lagi, di sinilah ensemble cast sangat berhasil di Marvel Cinematic Universe. Visualisasi nya juga amat memanjakan mata, bahkan terbaik dan amat kaya. Musiknya? Sulit memang menandingi Awesome Vol. 1 namun komposisi musiknya di sini sangat menyatu dan pas dengan tiap adegannya. Belum lagi scoring music dari Tyler Bates juga tidak kalah menawannya.

Akhir kata, Guardians of the Galaxy Vol. 2 merupakan peningkatan tajam dengan perubahan kisah radikal yang berhasil dilakukan oleh James Gunn. Bukan hanya canda tawa, aksi dan visual saja.. namun film ini memiliki kekuatan lebih:  kisah keluarga yang kuat. Didukung oleh ensemble cast-nya yang hampir semuanya bermain cemerlang, musiknya yang juga memukau, film ini merupakan yang terbaik di Marvel Cinematic Universe bersama Captain America: The Winter Soldier. Well done, James Gunn.

Review: Satria Heroes: Revenge of Darkness



Rasanya memang kebangkitan genre superhero tidak hanya ada di luar negeri saja, namun juga di Indonesia. Salah satu film yang kini menjumpai bioskop di Tanah Air ini adalah Satria Heroes: Revenge of Darkness. Film ini merupakan bagian dari franchise Satria Heroes yang sebelumnya menggarap prekuel serialnya yaitu Bima Satria Garuda dan Bima Satria Garuda X. Apalagi film ini juga mengusung genre Tokusatsu yang populer di Negeri Sakura dan juga bekerja sama dengan Ishimori Pro. Jadi bagaimana pandangan Saya setelah menonton filmnya?

Saya cukup termanjakan dengan bagian awal film Satria Heroes, di mana memberikan premis apa yang akan terjadi di filmnya juga nuansa humor yang asyik. Apalagi dengan bagian scene di Jepang nya lumayan bagus. Bagusnya sayang cuma cukup sampai di sini, lalu kemudian film ini berubah menjadi bencana. Hal ini dikarenakan perubahan alur cerita yang tanpa disadari terlalu meloncat dan bahkan membuat jurang amat besar. Saya sendiri ketika mulai masuk bagian tengah filmnya langsung merasa bosan. Pembagian chapter nya yang bermaksudnya menjadi bagian babak kisah namun justru malah terlihat tidak tersambung dengan baik. Lagi, ceritanya malah terlihat amburadul dan malah semakin kacau balau di paruh akhir filmnya. Bahkan plotting ceritanya malah terlihat kebingungan, sangat kebingungan. Dengan premis yang bagus di awal, sayangnya semuanya porak poranda tak berarti. Bahkan maaf saja, finale nya pun hancur lebur. Memang dalam babak pamungkas filmnya kotanya hancur, namun memang ternyata mendefinisikan betapa hancurnya kisah Satria Heroes. Akan tetapi, after credit scene nya merupakan bagian yang amat sangat menghibur di filmnya. Ironisnya, bagi saya justru adegan itulah yang membuat saya tersenyum.

Bagian aktingnya sangat sulit saya nilai, karena saya sempat mengira akan adanya peningkatan kualitas akting ataupun dialog. Sayangnya hal itu pun tidak terwujud di filmnya. Tambah lagi tutur ucapan kata-kata karakternya yang tetap terasa terjemahannya. Hal itu sempat menjadi bagian yang sangat fatal sebenarnya. Mungkin yang saya ingat di film ini adalah karakter yang diperankan oleh Yayan Ruhian yang malah membuat saya memang percaya dia layak sebagai karakter itu, namun sayangnya ini tidak diikuti oleh pemeran lainnya.

Bicara soal aksi, pengambilan gambar dan filmnya terasa sekali setengah matangnya. Aksinya memang patut diacungi jempol terutama di bagian awal filmnya dan saya suka dengan momen henshin (berubah dalam bahasa Indonesianya) namun departemen lainnya seperti kurang sekali eksekusinya. Bagian musiknya seperti melompat dan tidak seirama dengan adegan di filmnya. Ada adegan yang yang memang sudah terlihat seperti film namun masih terjebak dengan apa yang ada di serialnya. Plus, mengapa mereka memaksakan final battle nya seperti itu? Horror akan apa yang ada di Garuda Superhero yang tidak ingin saya alami lagi justru malah hadir kembali di Satria Heroes.

Akhir kata, Satria Heroes: Revenge of Darkness merupakan film yang sayangnya tergarap dengan tidak maksimal. Padahl film ini memiliki premis dan potensi yang bagus. Namun sayangnya Satria Heroes justru masih terjerumus oleh cerita yang berantakan dan eksekusi lainnya yang setengah matang.

[Review] Wonder Woman (2017)


"Gal Gadot born to be Wonder Woman"

Menjadi salah satu pesaing dalan cinematic universe dengan Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe lumayan tertatih dalam mengejar ketertinggalan. Batman v Superman yang mendapat mixed review namun akhirnya dipuji lewat Extended Cut-nya dan Suicide Squad yang bagi saya merupakan horror luar biasa jeleknya film itu, membuat saya pun skeptis dengan waralaba baru Warner Bros. ini. Berusaha menjawab kembali kecemasan, Patty Jenkins menghidupkan sebuah hero wanita yang sudah ditunggu sejak lama: Wonder Woman. Kembali dibintangi Gal Gadot sebagai sang jagoan, mampukah filmnya menjawab keraguan penonton termasuk fans nya?

Film ini dibuka dengan kisah yang mengalir amat nikmat dengan membuka gerbang masa lalu dari Diana. Cerita dari kehidupan di daerah asalnya terasa meyakinkan walaupun sayangnya agak terasa kepanjangan. Akan tetapi tidak menganggu alur filmnya dan adegan pertempurannya patut dipuji. Apalagi transisi perempuan ini dari seorang wanita polos hingga sebagai wanita yang kuat berbahaya. Tidak membosankan bahkan saya sangat enjoy dengan alur ceritanya yang rapih dalam memperkenalkan karakter lainnya juga chemistry duo Diana-Steve Trevor. Ada momen terasa menyesakkan dan lagi menyinggung makna perang itu sendiri, sentilan yang sebenarnya sudah sering di beberapa film bertema perang namun kembali dihadirkan dengan sajian segar. Kehebatan Wonder Woman tidak hanya dalam narasinya, bahkan final battle nya juga sangat dahsyat. Memperlihatkan sisi manusia yang mampu bertarung dan juga unsur heroik yang hebat. Terima kasih atas adegan scene akhirnya Jenkins, applaus meriah untuk adegan itu. 


Jajaran cast-nya terbilang semuanya solid dan memiliki chemistry bagus. Lagi, pujian harus diberikan kepada Gal Gadot di mana ia berhasil menyelesaikan misi beratnya mengangkat satu karakter yang sudah lama dinantikan ini. Aktingnya mengalami peningkatan signifikan dan bagaimana pembawaannya sebagai seorang superhero membuat saya merinding ketika ia mengenakan kostumnya itu. Begitu pun Chris Pine yang juga tampil menawan sebagai Steve Trevor, seorang pria yang harus berjibaku antara emosi dan takdirnya dalam Perang Dunia Ke-1 ini. Aktingnya dengan Gadot sangat natural dan alami, merupakan salah satu duo on screen yang saya suka di film genre superhero. Cast lainnya pun sama bagus dalam mendukung karakter utamanya namun patut dipuji adalah Robin Wright dan juga David Thelwis yang mampu menghadirkan akting yang prima dan sangat nikmat melihat karakter mereka di film ini.

Tentu saja untuk pujian lebih harus dtujukan pada Petty Jenkins. Lewat tangan magisnya, Wonder Woman tidak menjadi film medioker tipikal superhero belaka. Cerita yang digarap oleh Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs dengan naskah oleh Heinberg yang bagus diterjemahkan dengan ciamik oleh Jenkins. Spesial efek yang tidak terlalu banyak lumayan asyik untuk dilihat walaupun sayangnya agak kasar di beberapa scene, untungnya practical effect yang lebih dimajukan menjadi nilai plus lainnya dari film keempat DCEU ini. Gubahan musik dari Rupert Gregson-Williams tidak hanya menemani, namun memperkuat setiap adegan yang ada walaupun "Is She With You?" dari Hans Zimmer-Junkie XL tetap menjadi menu utama dalam setiap aksi prima wanita dari Amazon itu.


Akhir kata, akhirnya sebuah film DCEU yang menjadi senjata dahsyat di tahun ini. Seperti halnya menonton Man of Steel atau bahkan Superman dari Richard Donner, Wonder Woman merupakan salah satu karya terbaik dari DCEU dan film adaptasi DC Comics. Andai formula bagus ini dipertahankan, Marvel Studios benar-benar memiliki pesaing lainnya selain X-Men Cinematic Universe. Astonishingly beautiful, Wonder Woman adalah film DCEU yang kembali menemukan formulanya dengan tepat dan luar biasa.