Thursday, June 15, 2017

Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2




Sekuel adalah kata yang menggembirakan atau mungkin akan mengecewakan orang-orang yang menonton dan menyukai film pertamanya. Perjudian yang kuat apakah mau menulis cerita yang sama, formula sama atau justru mengubahnya? James Gunn selaku sutradara kembali mengerjakan sekuel pertamanya yang diakuinya tidak mudah. Jadi bagaimanakah film ini akan menuju?


Film keduanya ini tidak ingin membuka lagi dengan cara siapa mereka, tapi mengeksplor lebih dalan makna keluarga dan tema lainnya, ayah dan anak. Saya agak terkaget dengan perubahan arah GotG Vol. 2 yang sangat jauh berbeda ketimbang film pertama. Mungkin sebelumnya lebih ke pertemuan mereka dan di sini, mengapa mereka semua ada dalam satu tim lebih diperjelas. Perlu diingat, formula ini mengingatkan saya akan Star Trek Beyond yang lebih menonjolkan keseragaman dan makna masing kru nya. Guardians akan tetapi, menggali apa yang terjadi dibalik kesintingan mereka selama ini. Begitu banyak konflik dan hebatnya Gunn bisa dengan rapih menerjemahkan berbagai plot nya.


Saya akui, agak bosan di bagian pertengahannya dan ternyata Gunn menjawabnya dengan kelugasan apa penyebab hal itu terjadi. Tidak tanpa alasan, bahkan Gunn dengan berani menghajar sebuah simbol tanpa ampun. Tema keluarga dan ayah anak justru sangat terkait dan inilah poin terhebat dari Guardians of the Galaxy Vol. 2. Closing scene nya dengan diiringi Cat Stevens - Father and Son merupakan penutup dahsyat yang mengharukan dan juga merupakan klimaks yang menyentuh.

Ensemble  Vol. 2 nya ini semuanya bermain bagus. Saya bisa melihat apa penyebab mereka suka bertikai, juga saling mengumpat. Semua karakternya saya suka aktingnya even Kurt Russell juga meyakinkan sebagai Ego. Chris Pratt, Zoe Saldana, Vin Diesel, dan Bradley Cooper memberikan peningkatan karakter mereka. Sama halnya dengan Karren Gillian yang memperlihatkan sisi lain dari Nebula dan Pom Klementieff yang tampil apik sebagai Mantis. Tapi jika saya harus memuji lebih, adalah Michael Rooker sebagai Yondu yang tampil hebat di sini. Karakternya yang berubah tajam di sini dan akting Rooker patut diapresiai. Belum lagi cameo-cameo di sini juga tidak sekedar numpang lewat belaka. Kehadiran Sylvester Stallone beserta kejutan lainnya di film ini seakan menjadi 'tongkat estafet' yang disajikan dengan manis. 


Belum puas rasanya saya memuji Gunn di sini. Di sini ia tidak berbohong perihal tema keluarganya, penggalian mendalam membuat GotG Vol. 2 bukan hanya sekedar film aksi komik begitu saja. namun melebihi itu. Kekuatan emosional tiap karakter berhasil ia arahkan dengan maksimal. Lagi, di sinilah ensemble cast sangat berhasil di Marvel Cinematic Universe. Visualisasi nya juga amat memanjakan mata, bahkan terbaik dan amat kaya. Musiknya? Sulit memang menandingi Awesome Vol. 1 namun komposisi musiknya di sini sangat menyatu dan pas dengan tiap adegannya. Belum lagi scoring music dari Tyler Bates juga tidak kalah menawannya.

Akhir kata, Guardians of the Galaxy Vol. 2 merupakan peningkatan tajam dengan perubahan kisah radikal yang berhasil dilakukan oleh James Gunn. Bukan hanya canda tawa, aksi dan visual saja.. namun film ini memiliki kekuatan lebih:  kisah keluarga yang kuat. Didukung oleh ensemble cast-nya yang hampir semuanya bermain cemerlang, musiknya yang juga memukau, film ini merupakan yang terbaik di Marvel Cinematic Universe bersama Captain America: The Winter Soldier. Well done, James Gunn.

Review: Satria Heroes: Revenge of Darkness



Rasanya memang kebangkitan genre superhero tidak hanya ada di luar negeri saja, namun juga di Indonesia. Salah satu film yang kini menjumpai bioskop di Tanah Air ini adalah Satria Heroes: Revenge of Darkness. Film ini merupakan bagian dari franchise Satria Heroes yang sebelumnya menggarap prekuel serialnya yaitu Bima Satria Garuda dan Bima Satria Garuda X. Apalagi film ini juga mengusung genre Tokusatsu yang populer di Negeri Sakura dan juga bekerja sama dengan Ishimori Pro. Jadi bagaimana pandangan Saya setelah menonton filmnya?

Saya cukup termanjakan dengan bagian awal film Satria Heroes, di mana memberikan premis apa yang akan terjadi di filmnya juga nuansa humor yang asyik. Apalagi dengan bagian scene di Jepang nya lumayan bagus. Bagusnya sayang cuma cukup sampai di sini, lalu kemudian film ini berubah menjadi bencana. Hal ini dikarenakan perubahan alur cerita yang tanpa disadari terlalu meloncat dan bahkan membuat jurang amat besar. Saya sendiri ketika mulai masuk bagian tengah filmnya langsung merasa bosan. Pembagian chapter nya yang bermaksudnya menjadi bagian babak kisah namun justru malah terlihat tidak tersambung dengan baik. Lagi, ceritanya malah terlihat amburadul dan malah semakin kacau balau di paruh akhir filmnya. Bahkan plotting ceritanya malah terlihat kebingungan, sangat kebingungan. Dengan premis yang bagus di awal, sayangnya semuanya porak poranda tak berarti. Bahkan maaf saja, finale nya pun hancur lebur. Memang dalam babak pamungkas filmnya kotanya hancur, namun memang ternyata mendefinisikan betapa hancurnya kisah Satria Heroes. Akan tetapi, after credit scene nya merupakan bagian yang amat sangat menghibur di filmnya. Ironisnya, bagi saya justru adegan itulah yang membuat saya tersenyum.

Bagian aktingnya sangat sulit saya nilai, karena saya sempat mengira akan adanya peningkatan kualitas akting ataupun dialog. Sayangnya hal itu pun tidak terwujud di filmnya. Tambah lagi tutur ucapan kata-kata karakternya yang tetap terasa terjemahannya. Hal itu sempat menjadi bagian yang sangat fatal sebenarnya. Mungkin yang saya ingat di film ini adalah karakter yang diperankan oleh Yayan Ruhian yang malah membuat saya memang percaya dia layak sebagai karakter itu, namun sayangnya ini tidak diikuti oleh pemeran lainnya.

Bicara soal aksi, pengambilan gambar dan filmnya terasa sekali setengah matangnya. Aksinya memang patut diacungi jempol terutama di bagian awal filmnya dan saya suka dengan momen henshin (berubah dalam bahasa Indonesianya) namun departemen lainnya seperti kurang sekali eksekusinya. Bagian musiknya seperti melompat dan tidak seirama dengan adegan di filmnya. Ada adegan yang yang memang sudah terlihat seperti film namun masih terjebak dengan apa yang ada di serialnya. Plus, mengapa mereka memaksakan final battle nya seperti itu? Horror akan apa yang ada di Garuda Superhero yang tidak ingin saya alami lagi justru malah hadir kembali di Satria Heroes.

Akhir kata, Satria Heroes: Revenge of Darkness merupakan film yang sayangnya tergarap dengan tidak maksimal. Padahl film ini memiliki premis dan potensi yang bagus. Namun sayangnya Satria Heroes justru masih terjerumus oleh cerita yang berantakan dan eksekusi lainnya yang setengah matang.

[Review] Wonder Woman (2017)


"Gal Gadot born to be Wonder Woman"

Menjadi salah satu pesaing dalan cinematic universe dengan Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe lumayan tertatih dalam mengejar ketertinggalan. Batman v Superman yang mendapat mixed review namun akhirnya dipuji lewat Extended Cut-nya dan Suicide Squad yang bagi saya merupakan horror luar biasa jeleknya film itu, membuat saya pun skeptis dengan waralaba baru Warner Bros. ini. Berusaha menjawab kembali kecemasan, Patty Jenkins menghidupkan sebuah hero wanita yang sudah ditunggu sejak lama: Wonder Woman. Kembali dibintangi Gal Gadot sebagai sang jagoan, mampukah filmnya menjawab keraguan penonton termasuk fans nya?

Film ini dibuka dengan kisah yang mengalir amat nikmat dengan membuka gerbang masa lalu dari Diana. Cerita dari kehidupan di daerah asalnya terasa meyakinkan walaupun sayangnya agak terasa kepanjangan. Akan tetapi tidak menganggu alur filmnya dan adegan pertempurannya patut dipuji. Apalagi transisi perempuan ini dari seorang wanita polos hingga sebagai wanita yang kuat berbahaya. Tidak membosankan bahkan saya sangat enjoy dengan alur ceritanya yang rapih dalam memperkenalkan karakter lainnya juga chemistry duo Diana-Steve Trevor. Ada momen terasa menyesakkan dan lagi menyinggung makna perang itu sendiri, sentilan yang sebenarnya sudah sering di beberapa film bertema perang namun kembali dihadirkan dengan sajian segar. Kehebatan Wonder Woman tidak hanya dalam narasinya, bahkan final battle nya juga sangat dahsyat. Memperlihatkan sisi manusia yang mampu bertarung dan juga unsur heroik yang hebat. Terima kasih atas adegan scene akhirnya Jenkins, applaus meriah untuk adegan itu. 


Jajaran cast-nya terbilang semuanya solid dan memiliki chemistry bagus. Lagi, pujian harus diberikan kepada Gal Gadot di mana ia berhasil menyelesaikan misi beratnya mengangkat satu karakter yang sudah lama dinantikan ini. Aktingnya mengalami peningkatan signifikan dan bagaimana pembawaannya sebagai seorang superhero membuat saya merinding ketika ia mengenakan kostumnya itu. Begitu pun Chris Pine yang juga tampil menawan sebagai Steve Trevor, seorang pria yang harus berjibaku antara emosi dan takdirnya dalam Perang Dunia Ke-1 ini. Aktingnya dengan Gadot sangat natural dan alami, merupakan salah satu duo on screen yang saya suka di film genre superhero. Cast lainnya pun sama bagus dalam mendukung karakter utamanya namun patut dipuji adalah Robin Wright dan juga David Thelwis yang mampu menghadirkan akting yang prima dan sangat nikmat melihat karakter mereka di film ini.

Tentu saja untuk pujian lebih harus dtujukan pada Petty Jenkins. Lewat tangan magisnya, Wonder Woman tidak menjadi film medioker tipikal superhero belaka. Cerita yang digarap oleh Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs dengan naskah oleh Heinberg yang bagus diterjemahkan dengan ciamik oleh Jenkins. Spesial efek yang tidak terlalu banyak lumayan asyik untuk dilihat walaupun sayangnya agak kasar di beberapa scene, untungnya practical effect yang lebih dimajukan menjadi nilai plus lainnya dari film keempat DCEU ini. Gubahan musik dari Rupert Gregson-Williams tidak hanya menemani, namun memperkuat setiap adegan yang ada walaupun "Is She With You?" dari Hans Zimmer-Junkie XL tetap menjadi menu utama dalam setiap aksi prima wanita dari Amazon itu.


Akhir kata, akhirnya sebuah film DCEU yang menjadi senjata dahsyat di tahun ini. Seperti halnya menonton Man of Steel atau bahkan Superman dari Richard Donner, Wonder Woman merupakan salah satu karya terbaik dari DCEU dan film adaptasi DC Comics. Andai formula bagus ini dipertahankan, Marvel Studios benar-benar memiliki pesaing lainnya selain X-Men Cinematic Universe. Astonishingly beautiful, Wonder Woman adalah film DCEU yang kembali menemukan formulanya dengan tepat dan luar biasa.