Friday, January 25, 2013

Review: The Breakfast Club (1985)

 
Director & Writer: John Hughes 
Cast: Emilio Estevez, Judd Nelson, Anthonny Michael Hall, Molly Ringwald, Ally Sheedy, 
John Kapelos, Paul Gleason 
Genre: Teenage/Drama/School 


"The Breakfast Club really have the youth orgasm"

Sudah banyak film remaja yang saya tonton. Ada yang berkesan dan bagus ceritanya, adapula yang hanya sekali ditonton lalu beres. Namun, ada sebuah film yang akan mengundang anda ke suatu kelompok remaja dan anda akan terkesima dibuatnya. Dibintangi oleh Emilio Estevez sebagai Andrew Clark, Judd Nelson sebagai John Bender, Anthony Michael Hall sebagai Brian Johnson dan Molly Ringwald sebagai Claire Standish serta Ally Sheedy sebagai Allison Reynolds. Mengangkat sisi problematika remaja yang sangat membumi dan juga insptatif: The Breakfast Club

Hari Sabtu tanggal 24 Maret 1984, kelima remaja yang memang amat asing satu sama lain baik dari segi gaya hidup dan budaya mereka harus bertemu. Mereka ditempatkan di perpustakaan dan diawasi langsung oleh asisten kepala sekolah Richard Vernon. Andrew yang dikenal aktif dalam olahraga, Brian yang pintar dan ikut ke berbagai klub akademik, Claire yang dikenal sebagai primadona di sekolah, Bender seorang yang pembangkang dan Allison yang aneh dan pendiam. Mereka dihukum karena melakukan tindakan indisipliner di sekolah dan harus menulis sebanyak 1000 kata dalam kurun waktu 8 jam. Bayangkan betapa bingung dan susahnya komunikasi mereka berlima. Mereka pun pada awalnya susah berkomunikasi dan merasa untuk apa mereka ada disana. Belum lagi dihadapkan pada Vernon yang keras terhadap murid dan dihari itu pun Carl seorang petugas sekolah beradu pikiran dengan dia. Sabtu itu, yang kemudian memberikan suatu hal yang mereka tidak duga sebelumnya


The Breakfast Club mempunyai alur yang renyah sekali untuk diikuti. Bagaimana pembangunan karakter yang dilakukan sejak awal film, chemistry mereka dan juga plot yang memang bagus. Bagaimana problematika mereka, bagaimana keseharian mereka baik yang generasi tua,dewasa dan juga remaja ditampilkan dengan luar biasa. Hal ini memang jarang sekali terjadi bahkan film2 remaja kini pun jarang yang bisa menampilkan metafora suatu konklusi yang luar biasa.


Cast dalam film ini pun memberikan performa yang luar biasa. Emilio yang enerjik dan terlihat memukau sebagai seorang atlit remaja, Judd Nelson yang gemilang sebagai John Bender yang pembangkang, selalu meramaikan suasana dan juga bengal dan tidak ragu dalam berkata-kata, Anthony Michael Hall sebagai seorang remaja yang pintar pun ditampilkan dengan baik olehnya, Ally pun keren sebagai seorang remaja pendiam yang mempunyai banyak rahasia dan Molly sebagai seorang gadis yang tebar pesona dan aktif. Ke lima cast ini memiliki ikatan yang kuat ketika tampil di film ini. Sebuah pemilihan cast yang cerdik. Belum lagi Gleason yang tidak kalah ciamiknya sebagai Vernon yang tegas dan Kapelos sebagai Carl yang selalu berpikir jernih dalam setiap omongannya.


John Hughes yang menulis film ini sepertinya mengerti betul apa yang terjadi pada kehidupan remaja dan disekolah. Ia mengangkat sebuah isu yang universal dan membumi dan tidak akan usang bahkan hingga kini. Selain itu, ia merangkai tiap adegan yang menghipnotis saya dan setiap adegan begitu berharga. Adegan-adegan di film ini baik konflik dan juga candaan yang memang sangat lepas dan juga menghibur. Ia menjaga intensitas kepada penontonnya dari awal hingga akhir. Biasanya, terjadi tumpang tindih dalam karakter yang banyak dan sulit untuk fokus. Tapi, berbeda sekali dengan film ini. Justru ke lima karakter ini merata dalam pendekatan karakternya. Tidak ada pace yang membosankan dan bertele-tele. Pemilihan dialog yang cerdas sekali sehingga saya sendiri takjub. Selain itu, film ini menemani saya juga dengan musik2 yang memang memliki lirik kuat mengenai semangat remaja. Keith Forsey yang bertanggung jawab dalam seksi musik dalam ini memberikan musik yang asyik dan juga enak didengar di setiap adegan film ini. Ketika nuansa perdebatan, senang, sedih dan juga tensi emosi musik ini terasa amat pas.

Akhir kata, The Breakfast Club merupakan film yang sulit untuk ditolak. Memberikan inspirasi baik kepada para remaja maupun generasi tua yang dulunya remaja. Memberikan pengalaman yang luar biasa untuk bergabung dengan klub ini. Memberikan pesan yang tidak menggurui namun langsung pada inti permasalahannya. Saya sangat merekomendasikan film ini.

The Breakfast Club Score: 5/5

8 comments:

  1. mantap gan postingan nya..

    oyah gan.. kalo da waktu luang .visit blog newbie ane gan di http://goedangaplikasi.blogspot.com/ sekalian follback blog saya

    ReplyDelete
  2. menggabungkan karakter yang berbeda dalam satu tempat. pasti unik ni filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat unik... dan kelima kaakternya bener2 hidup

      Delete
  3. Mantaf gan...
    tapi yakin tuh bisa dapet nilau full 5/5 ?

    ReplyDelete
  4. pingin punya dvd film ini....

    -Bob-

    ReplyDelete
  5. akhirnya buat penonton kentang alias kena tanggung pengen liat lagi gmn merea selajutnya....
    tapi keren lah mah film satu ini yang dr awl ga tertarik nonton di pertengahan film jadi nagih...

    ReplyDelete