Thursday, July 20, 2017

Review: Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad (2017)


Crossover di dunia tokusatsu memang sudah sangat lazim dan semakin ramai dalam kurun waktu 8 tahun belakangan ini. Baik crossover franchise Sentai, dengan Kamen Rider atau malah dengan Metal Heroes. Namun seakan berusaha lagi menghadirkan sesuatu hal yang berbeda, Toei kini membuat kembali crossover Sentai dengan Metal Heroes lewat Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad (2017).  Sebelumnya Gavan pernah melakukan crossover dengan Kyoryuger, Go-Buster dan Gokaiger walaupun dalam judul yang terakhir ini masih berfokus pada original Gavan. Dibesut oleh sutradara kawakan Koichi Sakamoto, apakah Space Squad memberikan kemagisan lainnya di dunia tokusatsu? 


Film ini memiliki sebenarnya memiliki fondasi yang sudah sangat umum tentunya dalam format crossover: Salah Paham. Untungnya pengarahan ceritanya tidak seklise crossover lainnya. Adanya konflik yang menggigit ditambah teka-teki yang memang terasa tepat untuk film ini. Dari awal sampai akhir saya tersenyum-senyum dan umringah dengan alurnya yang mengasyikkan. Walaupun lebih agak dewasa secara penggambaran ceritanya, namun Space Squad mengedepankan unsur aksi yang kental apalagi Sakamoto mengarahkannya dengan elegan. Sajian pertarungan pamungkasnya juga dihidangkan dengan manis dan juga memorable dengan berbagai gimmick scene yang memanjakan mata. Tambah lagi pose dari hero baik Gavan dan Dekaranger yang Sakamoto paham betul akan role call yang bagus. Pun demikian, villain di sini juga tidak kalah dengan heronya. Madgallant tidak hanya mengancam namun juga memberikan perlawanan dan juga hawa mengerikan. Adegan akhir filmnya seakan membuka sebuah ruang yang tidak terduga bagi saya, dan mungkin menjadi bagian yang sangat menarik jika film ini sukses. 


Adapun hal lainnya yang patut diperhatikan di sini adalah bagaimana Sakamoto dan penulis Space Squad, Narushia Arakawa memberikan keadilan bagi Geki dan Gavan terbaru. Setelah film Gavan the Movie yang flop dan kurang mendapat sambutan baik, di sinilah karakternya mendapatkan momentumnya. Malahan di sinilah 'passing the torch' dirinya dengan Retsu Ichijouji (original Gavan) lebih memorable. Kehadiran Kenji Ohba yang hanya sekilas namun tentunya tetap saja memperlihatkan aksi yang menawan. 


Dekaranger di satu sisi, juga bisa berbaur dengan karakter Geki di sini. Semua karakternya tetap sama personanya walaupun tentu ada perkembangan yang juga pas di mana mereka bisa dibilang lebih senior dari Gavan Type-G. Sajian pernikahan Umeko dan Sen juga BanBan yang lebih matang sebagai Deka Red Fire Squad menjadi dua poin penting yang menambah semaraknya Space Squad. Tidak ada berat sebelah malahan kerjasama mereka semua padu sekali. 


Sempat skeptis karena beberapa karyanya belakangan yang menurun, saya kemudian tersenyum puas akhirnya di mana Sakamoto akhirnya kembali ke performa terbaiknya. Menyuguhkan aksi dan drama dengan komposisi yang berimbang. Bahkan bisa dibilang di sini style-nya terasa berbeda termasuk dalam pengambilan gambar yanh jujur saya acungi dua jempol di sini. Arakawa yang menulis ceritanya juga secara mengejutkan mampu mengolah cerita Space Squad yang walaupun sederhana namun memiliki daya taring yang kuat. Scoring musiknya di sini juga dengan piawai menyesuaikan scene di Space Squad ditambah ending song dari YOFFY dan Akira Kushida berjudul "SPACE SQUAD" juga membuat filmnya bertambah gemilangnya. 


Akhir kata, Uchu Keiji Gavan vs Tokusou Sentai Dekaranger: Space Squad merupakan crossover yang amat penting, percaya diri dan juga hebat. Kudos kepada Koichi Sakamoto yang mengarahkan filmnya dengan apik juga cast Gavan-Dekaranger yang bermain dengan gemilang. Fantastic Crossover!

Tuesday, July 11, 2017

Review: Kamen Rider Amazons Season 2 (2017)



Note: serial ini ditujukan untuk usia 17 tahun keatas dan bukan untuk anak-anak.

Agak jarang nampaknya Toei membuat sebuah sekuel untuk seri Kamen Rider, ya jarang. Namun kesuksesan Kamen Rider Amazons di tahun 2016 membuat Toei dan Amazon Prime percaya diri untuk kembali melanjutkan kisahnya dengan Yasuko Kobayashi melanjutkan perannya sebagi penulis cerita di Season 2. 



Adalah hal yang mengagetkan di mana Amazons Season 2 memutuskan memberikan time skip 5 tahun pasca kejadian Project Tlaloc. Uniknya adalah POV yang diubah di mana ada dua karakter baru dan 1 karakter pendukung utama yaitu Chihiro, Iyu dan Kurosaki yang terlihat dominan di season 2. Saya sempat kebingungan karena awal episode nya justru tidak terlihat sebagai sebuah kelanjutan. Pelan namun pasti, Kobayashi kembali menghadirkan karakter dari season 1 sehingga semakin jelas bahwa memang ini adalah bagian berikutnya dari karakter mereka. Kegilaan dari musim kedua Amazons adalah kesadisan yang cukup brutal dan eksplisit. Memang hal ini sudah umum bagi genre gore namun sadisme di sini menekankan ke arah psikologis, bukan secara visual semata. 




Ledakan dahsyat dari season ini adalah di episode 8, di mana episode ini merupakan titik apa yang sebenarnya terjadi dalam kejadian lima tahun pasca Tlaloc. Di sinilah Kobayashi kemudian memainkan kartu As nya, menghajar keputus asaan dan kepahitan dari Amazons. Pada musim sebelumnya, pendekatannya lebih ke perburuan dan tensi yang cepat. Namun seperti yang saya sebutkan di atas, Kobayashi mengubah temanya menjadi imbas yang amat menyakitkan. Semua ini pun terjawab di episode akhirnya di mana Kobayashi tidak bermain di pesan moral, namun menanyakan apa itu 'manusia'. Dampak episode 13 ini bagi saya pun sangat dahsyat, di mana endingnya justru menghajar nurani dan kemanusiaan itu sendiri.




Hampir seluruh cast memberikan penampilan yang apik. Namun kemajuan tetap dihadirkan di karakter Mizuki dan Haruka. Sebelumnya mereka terlihat muda dan naif, di musim ini kedewasaan mereka diuji di mana Rena Takeda dan Tom Fujita menghadirkan chemistry yang apik. You Maejima dan Ayana Shiramoto juga memberikan impresi yang cemerlang sebagai Chihiro dan Iyu di mana saya merasa simpatik oleh kedua karakter ini. Begitu pun Masashi Tanaguchi dan Aya Higashi yang semakin memikat sebagai Jin dan Nanaha di mana kepedihan dan 'dosa' yang ada dalam karakter mereka juga terpancar dengan jelas. Namun jelas yang harus amat dipuji adalah Kouta Miura yang berhasil memerankan Kurosaki. Keabsolutan dan tanpa pandang bulunya diperlihatkan dengan lugas oleh Miura. 




Bicara soal aksi, Amazons Season 2 mengalami peningkatan walaupun tidak seintens season 1. Akan tetapi, tempo cepat yang dimainkan dalam 5 episode akhirnya terlihat memorable dengan banyak aksi yang lebih mengedepankan dampak psikologisnya. Bahkan saya amat menyukai banyak momen henshin-nya, terutama Haruka di mana saya selalu menyukai pose henshin-nya itu. Lebih-lebih di episode 13, adegan henshin akhirnya itu justru menyakitkan. Tidak lupa, scoring musik di Season 2 juga amat pas dan "Die Set Down" yang dinyanyikan oleh Taro Kobayashi. sangat sesuai dengan temanya. Akan tetapi, Amazons Season 2 memberikan kejutan dengan sebuah Ending Song dari Saeko Suzuki dengan lagunya berjudul "Yagate Hoshi ga Furu". Lagu ini sebenarnya sudah 'dinyanyikan' oleh beberapa karakter di serialnya, namun lagu yang dibawakan oleh Suzuki ini justru penutup yang memang sempurna untuk Season 2 dari Amazons


Akhir kata, Kamen Rider Amazons Season 2 memberikan sebuah pandangan bahwa di sini bukanlah pahlawan-musuh, baik-jahat. Justru di musim ini Kobayashi menghajar paradigma itu dengan apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh mereka, apakah arti dari manusia dan humanisme itu sendiri. Sebuah kelanjutan yang amat memuaskan saya, Kamen Rider Amazons Season 2 merupakan salah satu kisah yang menamparkan sebuah kehidupan itu sendiri. Terima kasih kepada jajaran pemeran dan kru dari Amazons Season 2, juga Yasuko Kobayashi yang memberikan sebuah 'ironisme hidup' dari serialnya ini. 



......Yagate Hoshi ga Furu... Hoshi ga.. Furu.. Koro... Kokoro tokimeite.. tokimeite.. kuru..

Saturday, July 1, 2017

Review: Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legend Rider



Film ketujuh dari Movie Taisen yang dimulai dari tahun 2009 lewat Movie Taisen 2010 (2009) ini menjadi bagian yang spesial. Sebagai salah satu bagian perayaan 45 tahun Kamen Rider, Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legendary Rider digarap oleh sutradara Koichi Sakamoto dengan Yuya Takanashi (penulis serial Kamen Rider Ex-Aid) yang mengerjakan naskah kisahnya. Tidak hanya Ghost dan Ex-Aid saja, namun Heisei Generation juga menghadirkan kembali tiga kamen rider sebelumnya di era Heisei Phase 2. Tentu saja menjadi nilai plus bagi fans terdahulunya yang bisa kembali melihat karakter kamen rider favorit mereka.



Seperti halnya Movie Taisen Genesis, kisah dari filmnya sendiri sudah menyatu dan tidak terbagi beberapa bagian lagi. Namun demikian, sayangnya perubahan ini tidak memberikan efek signifikan banyak. Ceritanya bahkan terbilang biasa saja, meskipun terhubung ke baik Ex-Aid dan setelah serial Ghost. Musuhnya pun terbilang tidak mengintimidasi sama sekali, dan ya terlupakan begitu saja di mana padahal memasang unsur Pacman yang tidak menolong. Akan tetapi, ada sedikit homage dari kamen rider terdahulu yang fans mungkin akan menyadarinya.

Cast dari Ex-Aid hanya supporting chara saja yang bagus itupun tidak mendapat spot banyak, untungnya Ruka Matsuda (Poppy/Pipopap) dan Hayato Onozuka (Kujyo Kiriya/Kamen Rider Lazer) memberikan impresi yang bagus. Cast Ghost sudah membaik ketimbang di serialnya walaupun memang tidak sebegitu wah nya. Shunya Shiraishi yang kembali sebagai Haruto agak beda karakternya di sini malahan saya agak pangling melihatnya. Namun jelas di sini yang menjadi bintang utama justru Ryoma Takeuchi yang melanjutkan perannya sebagai Tomari Shinnosuke. Kehadirannya di sini terasa menyegarkan di tengah oase filmnya yang hambar ini.


Jualan utama dan ciri khas dari Koichi Sakamoto adalah aksi dan aksi. Sayangnya di sini penyutradaraannya mengalami penurunan ketimbang Megamax dan A to Z Unmei no Gaia Memory. Sutradara yang juga jebolan dari produksi Power Rangers ini seakan sulit mengarahkan ceritanya yang ditulis oleh Yuya Takanashi. Yuya pun nampaknya tidak menghadirkan cerita yang menarik dan bahkan terlupakan begitu saja. Oh ya, di sini komposisi musiknya memang kacau. Malahan menutup suara baik efek belt dan juga tidak terlalu sinkron dengan scene nya.


Akhir kata, Kamen Rider Heisei Generations: Dr. Pac-Man vs. Ex-Aid & Ghost with Legendary Rider merupakan film yang sayangnya terlalu menjual aksi dan ceritanya kurang tergali dengan baik. Namun demikian, hadirnya cast lamanya sedikit mengurangi  kekurangan filmnya dan tentunya bagian dari perayaan 45 tahun Kamen Rider ini justru hasil akhirnya kurang baik. Namun bagi yang menantikan film aksi khas Sakamoto mungkin akan tetap bisa menikmatinya walaupun bagi saya sendiri, film garapannya ini justru merupakan penurunan dari karyanya.