Thursday, February 25, 2016

Review: Kamen Rider Hibiki



Series: Kamen Rider Hibiki
Producer: Shigenori Takatera (Episode 01-29), Shinichiro Shirakura (30-48)
Cast: Shigeki Hoshokawa, Rakuto Tochihara, Jouji Shibue, Miyuki Kanbe, Erika Mori, Kenji Matsuda, Shingo Kawaguchi, Nana Akiyama, Mayu Gamou, Yuichi Nakamura. 


Hampir semua serial Kamen Rider di era Heisei sudah saya tonton. Namun saya akui, ada satu serial yang justru belum saya sentuh dan akhirnya berkesempatan untuk menyaksikannya. Ya, Kamen Rider Hibiki adalah serial yang tayang pada tahun 2005 dan memiliki tema yang unik. Mengambil tema musik dan tidak seperti heisei rider sebelumnya yang justru mengambil unsur tradisional yang kental. 


Saya menyukai serial ini dan karakter yang ada di dalamnya. Hibiki, Asumu, Ibuki, Akira, Todoroki dan Zanki serta tidak ketinggalan yaitu staff dari Takeshi.  Dari awal, mereka terlihat amat membumi dan juga memberikan budaya santun yang kental. Menjunjung rasa hormat yang juga kuat dan unsur karakternya yang terus berlatih. Hal ini tidak lain merupakan ciri khas dari produsernya, Shiogenori Takatera yang sudah dilakukannya di Kamen Rider Kuuga. Apalagi, dengan berani menampilkan pertarungan di hutan yang memang agak jarang ditampilkan di heisei rider sebelumnya. Pujian lainnya adalah dari segi opening song-nya, Kagayaki diikuti dengan perkenalan cast nya yang bagus sekali. Plus, Akira Fuse yang menyanyikan Shonen Yo sangat membantu serial ini di paruh awal serialnya.  Saya amat memuji 29 episode awalnya yang memiliki kualitas bagus hingga sesuatu hal yang buruk terjadi. 


Kiriya, salah satu karakter yang tidak penting di Hibiki

Adanya perubahan tim produksi dan didepaknya Takatera dari Hibiki oleh Toei dan Hibiki kemudian diubah dengan pakem Kamen Rider pada umumnya. Perubahan ini diakibatkan rendahnya penjualan mainan dan juga tanggapan dari pihak orang tua di Jepang di mana anak-anak justru tidak menyukainya. Bukannya bagus, perubahan ini justru menghilangkan identitas dari Hibiki. Belum lagi adanya pengebirian beberapa karakter yang sudah bagus yang dilakukan oleh Toshiki Inoue, penulis yang ditunjuk oleh Toei pasca pergantian tim produksinya justru tidak membantu . Apalagi dengan masuknya karakter Kiriya yang malah buat saya adalah karakter paling tidak penting di Hibiki. Terlebih, Inoue justru seperti hendak mengenyahkan karakter Asumu dengan kehadiran Kiriya. Ya, karakter Todoroki-Zanki memang masih bagus untuk dikembangkan namun sisanya justru mundur, termasuk Hibiki nya sendiri. 


Tak ayal, Shigeki Hoshokawa yang merupakan pemeran Hibiki tidak menikmati proses pembuatan paruh akhir serial ini. Kemunduran serial ini semakin menjadi-jadi di tiga episode akhir dan terutama episode 47 dan 48. Episode finalnya maaf-maaf saja, dieksekusi dengan sangat buruk. Apalagi setelah mengetahui naskahnya ditulis ulang sebanyak enam kali dan sangat terlihat di episode 48  yang buruk itu.  Salah satu kesalahan paling fatal dari pergantiannya juga adalah mengganti lagu pembukanya dan menghilangkan bagian ending song Shonen Yo. Ya, sangat fatal. Kejadian pergantian tim produksi Hibiki bagi saya tidak termaafkan, apalagi ceritanya yang menurun drastis.  Percayalah, kejadian ini sangat memberikan andil besar pada perkembangan Kamen Rider berikutnya pun pandangan dunia entertainment Jepang pada salah satu franchise tokusatsu Jepang ini. 


Overall, Kamen Rider Hibiki merupakan serial yang memiliki potensi amat besar dan sangat terlihat dari paruh awal serialnya yang bagus. Sayang sekali, pergantian tim produksi dan juga arah ceritanya membuat seri ke-5 heisei kamen rider ini justru menjadi buruk. Andai saja Takatera masih memegang serial ini seperti yang juga diinginkan jajaran pemainnya (termasuk saya sendiri), mungkin Hibiki akan dianggap sebagai serial yang memorable. Sayang sekali, hal ini tidak terwujud.

 Cast Hibiki yang reuni 10 tahun yang lalu. Foto dari akun twitter Nana Akiyama

Monday, March 3, 2014

Review: Rush (2013)

 
Director:Ron Howard 
Cast: Chris Hemsworth, Daniel Bruhl, Olivia Wilde, Alexandra Maria Lara 
Writer: Peter Morgan 
Score: Hans Zimmer 
Genre: Drama, Action, Racing, Sport.


Pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah ada film balapan yang berkualitas? Kalau kita harus memberikan tolak ukurnya ke Fast & Furious, jelas agak salah kaprah. Yang dimaksud dalam balapan di sini adalah balapan yang memang berada di arena. Contohlah Driven, tapi itupun filmnya tidak jelas arahnya kemana. Hingga akhirnya datang sebuah film karya Ron Howard yang menggarap tentang balapan F1: Rush. Sebuah pilihan yang amat berani sebenarnya, mengingat walaupun populer di dunia namun kurang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Mengangkat kisah nyata tentang dua orang yang fenomenal, dan juga lebih daripada hal itu: Rivalitas.


Pada era 70an atau lebih tepatnya pada tahun 1976, semua orang yang menyaksikan Formula 1 tertuju pada dua pembalap. Mereka adalah Niki Lauda dan James Hunt yang memberikan persaingan keras nan sengit di medan balapan. Lauda adalah orang yang sulit diajak bicara, sering mengeluarkan umpatan dan lumayan sombong akan pemahanannya tentang mobil F1. Sementara James Hunt adalah seseorang yang ingin senang-senang, selalu memberikan guyonan dan pandai bergaul. Jelas dari sifatnya sangat bertolak belakang. Hingga pada akhirnya, suatu hal terjadi dan benar-benar merubah pesona balapan tersebut ke level yang berbeda.
Kenyataannya, sejak menit awal saya sudah dibuat terperangah dengan tensi yang dibuat. Aroma ketegangan yang langsung dihadirkan benar-benar memberikan momen awal yang memang sudah dipersiapkan untuk adegan berikutnya yang sangat, sangat luar biasa. Alur dalam film ini pun membuat adrenaline saya pun terpacu untuk terus mengikutinya. Bahkan adegan klimaks dalam Rush memberikan warna tersendiri yang membuat saya benar-benar terdiam karena intensitasnya tersebut.



Fokus pada dua karakter di film ini benar-benar dioptimalkan. Saya jujur kaget dengan performa Chris Hemsworth yang berperan dengan prima sebagai James Hunt. Setelah menyaksikannya hanya pamer otot di beberapa film aksi terdahulu, disinilah aktingnya benar-benar diperlihatkan. Ia berhasil memberikan kesan playboy nan famboyan dalam tokoh James. Namun, jelas sekali bintang dalam film ini adalah Daniel Bruhl yang berakting luar biasa sebagai Niki Lauda. Bagaimana ia bisa berakting dengan amat natural dan tidak dibuat-buat sama sekali. Intonasi suara, mimik, dan semuanya, bahkan kedisiplinannya seorang Lauda benar-benar dipancarkan oleh Bruhl. Bagaimana dengan pendukungnya? Olivia Wilde tidak memiliki banyak adegan di sini, namun ia tetap memberikan daya tarik tersendiri dalam karakter yang dia perankan. Sementara Alexandra yang berperan sebagai istri Lauda juga memberikan kesan tersendiri di film ini.


Entah mimpi apa sampai-sampai Ron Howard bisa menyutradarai film dengan luar biasa ini. Sang sutradara seperti paham bagaimana menggiring penontonnya, baik ketika fokus ke balapan maupun ke personal. Biasanya, ada suatu keklisean yang mengedukasi atau menjelaskan sejarah tapi sang sutradara tidak menggiring kita ke sana. Lebih tepatnya, ia memberikan intrik dan juga permasalahan pribadi yang amat menarik dari kedua tokoh tersebut.Saya pun menyukai angle-angle kamera yang statis namun juga dinamis. Apalagi saya sendiri malah berasa menonton F1 secara nyata. Mari berikan applaus juga pada Peter Morgan yang membuat cerita yang bahkan orang yang tidak suka F1 pun tertarik untuk menontonnya. Plot dan ketegangan yang dikombinasikan dengan kecepatan benar-benar dioptimalkan olehnya. Dalam sisi musiknya, Hans Zimmer akhirnya benar-benar memberikan kesan yang berbeda dari scoring-scoring terdahulunya. terasa sekali setiap adegan begitu emosional dan persaingan yang berhasil ia padukan dengan alunan musik yang dahsyat.


Overall, Rush adalah film yang lebih daripada sekedar hiburan. Sebuah pengalaman yang sama ketika saya menonton Senna dan membuat saya selalu ketagihan untuk menontonnya lagi dan lagi. Sebuah pengalaman yang begitu intim dan personal. Hemsworth dan Bruhl memberikan chemistry yang luar biasa dalam film ini. Juga memperlihatkan bahwa film balapan juga terbukti sangat berkualitas. Magnifique. 

Rush Score: 5/5

Friday, November 1, 2013

Review: Before Midnight (2013)


Director: Richard Linklater
Screenplay: Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy
Cast: Ethan Hawke, Julie Delpy
Genre: Drama, Romance
Rating: Dewasa


"18 tahun yang luar biasa dalam momen genre romantis, kembali hadir disini"


Akankah terbayang sebuah kisah romansa akan terus berjalan hingga 18 tahun kemudian? Sebuah kisah mengenai obrolan Jesse-Celine yang masih menghiasi jagad perfilman yang selalu dikotomi oleh film romantis yang mainstream. Mereka kembali membuat perbedaan, dan kini Richard Linklater siap membayar lunas penantian penggemar dari bagian ketiga: Before Midnight. Namun anjuran dari saya: tonton Before Sunrise dan Before Sunset karena akan lebih nikmat lagi.


Jesse dan Celine kini telah bersama semenjak pertemuan mereka di Paris. Sekarang mereka sedang berada di Yunani karena Celine sedang mengembangkan usahanya. Jesse sudah menjadi penulis yang mapan dan mereka di anugerahi 2 anak perempuan kembar. Walaupun akhirnya mereka dipersatukan, polemik pun tidak terhindarkan. Baik dari anak Jesse dari perkawinan dia sebelumnya, maupun Celine yang merasa adanya ketidak nyamanan dari naluri perempuannya. Sebuah momen besar dan bom waktu pun lambat laun menunggu mereka.



Sebagai film ketiga, ada treatment berbeda yang dilakukan. Ketimbang memberikan beberapa scene pendahuluan seperti 2 installment sebelumnya, Linklater lebih sering mengedepankan long shot yan dioptimalkan. Hasilnya memang fantastis. Cerita dibuat sangat nyata dan juga momen klimaks yang sangat diluar dugaan saya. Ya, momen itu merupakan salah satu momen yang saya sendiri kaget dan memberikan nuansa emosional yang mengerikan.



Melanjutkan peran mereka dengan selang 18 tahun dari Sunrise dan 9 tahun setelah Sunset, Ethan Hawke dan Julie Delpy tidak kehilangan pesona. Mereka justru semakin mantap dalam chemistry nya. Hawke memberikan Jesse seseorang yang kini berubah namun sangat laki. Ya, sifat pria dalam hubungan cinta sangat terlihat disini dan natural. Sementara Delpy pun sama. Kita dihadapkan oleh bagaimana wanita menghadapi masalahnya, kini ia mempunyai peran seorang ibu dan ketakutannya akan banyak hal. Delpy menghadirkan semua momen yang diam namun pasti dalam ledakan kekesalannya itu secara natural. Tidak diragukan lagi bagaimana kualitas mereka yang begitu nyata sebagai pasangan yang kini mencapai level berbeda.
 

Richard Linklater seperti tahu betul bagaimana membuat penonton penasaran. Ia meramu kombinasi-kombinasi cinta yang tidak akan anda temui di film romantis biasa. Inilah kekuatan trilogy ini. Beberapa angle yang ditampilkan sangat nikmat untuk dipandang. Belum lagi pemilihan tempat-tempat di Yunani yang sangat eksotis namun juga menggambarkan suasana Jesse dan Celine. Linklater bersama Hawke juga Delpy, menyalurkan skrip brilian mereka dan tidak membuangnya secara percuma di semua scene yang ada. Untuk semua musik yang memang minimalis karena dialog yang diutamakan, Robert Reynolds justru memaksimalkannya. Penggambaran setiap perasaan yang dialami dan juga momentum pun dikemas dengan ciamik olehnya.


Akhir kata, Before Midnight merupakan Dessert yang sangat sempurna dari menu Before Trilogy. Film ketiga yang masif dan merupakan salah satu film terbaik 2013 bahkan dalam genre romantis. Trio Linklater-Hakwe-Delpy lagi lagi membuat saya terpesona dan takjub. Apalagi yang bisa saya bilang? Film ini sangat direkomendasikan! Selamat menonton

Score: 5/5