Monday, March 18, 2013

Review: Argo (2012)

Director: Ben Affleck
Screenplay: Chris Terrio
Cast: Ben Affleck, Bryan Cranston, Alan Arkin, John Goodman

Duration: 120 minutes

Genre: Drama, Sunspense, Comedy, Thriller, Politic.



"If I'm Gonna Make A Fake Movie, It's Gonna Be A Fake Hit !"
Sebuah kisah penyelamatan 6 mata-mata yang sedang terperangkap di Iran oleh seorang agen CIA dengan cara: Membuat film palsu. Argo, sesuai dengan judul film ini dan juga judul palsu yang digunakan Tony Mendez. Disutradarai oleh Ben Affleck dan juga dproduseri oleh dia serta George Clooney dan Grant Heslov. Film ini mendapat banyak penghargaan diberbagai ajang dan mencapai puncaknya ketika berhasil memenangkan Best Picture di ajang Oscar 2013 kemarin.

Kisruh Iran yang berkepanjangan selama 20 tahun membuat masyarakat Iran berontak. Mereka menginginkan keadilan dan Iran seperti pemerintahan yang seharusnya. Pejuang militan lalu menyerang Kedutaan Amerika Serikat dan disana ternyata merupakan markas mata-mata. Penyerbuan itu berhasil namun 6 orang berhasil lolos. Mereka: Robert 'Bob' Anders, Mark dan Cora Lijek, Joe dan Cathy Stanford dan lee Shatz bersembunyi di Kedutaan Besar Kanada. Pemerintahan AS melalui Departemen Luar Negeri lalu merancang ide bagaimana mereka membebaskan ke enam orang ini. Tony Mendez lalu mempunyai ide tersendiri: Film Palsu. Ia lalu mengontak John Chambers seorang make up artist peraih oscar dan produser Lester Siegel. Dibawah pengawasan Supervisor: Jack O'Donnell yang memberikan masukan kepada Tony. Tony memilih judul Argo dan akhirnya ia berangkat ke Iran. Misi ini tidak segampang yang ia rencanakan.

Film politik membosankan? Secara rata2 umum memang ya. Tapi Argo tidak memberikan kesempatan untuk itu. Dari awal film ini berhasil memberikan ketegangan yang intens bahkan sampai akhir film. Dibalik itu semua, Argo juga memberikan potensi komedi yang segar serta plot yang kuat. Interaksi antar karakter yang erat serta bagaimana konflik di film ini memberikan Argo sebuah paket yang sulit untuk ditolak.

Kesulitan film dengan ensemble Cast memang menjadi suatu momok bagi film yang memakai formula itu. Hal ini tidak terjadi pada Argo. Ben Affleck sebagai seorang Tony Mendez berhasil membawakan karakter ini dengan baik. Disini seorang Mendez harus kalem dan tenang dalam menghadapi setiap masalah. Bisa jadi membosankan, tapi menurut saya karakter ini menarik. Bryan Cranston layak mendapat pujian sebagai Jack O'Donnel. Supervisor yang mendukung ide bawahannya namun terbentur oleh struktur. Bryan disini berbeda jauh dari peran2 sebelumnya, dan ia menggunakan kesempatan ini dengan brillian. John Goodman juga luwes sebagai seorang make up artist yang eksentrik dan juga komikal. Alan Arkin lagi-lagi mencuri perhatian sebagai Siegel. Tidak salah ia dinominasikan lagi sebagai best supporting actor. Tidak kalah nyelenehnya dengan John Goodman sehingga memberikan impresi duo yang mantap. Bagaimana pemeran ke enam cast sebagai mata-mata? Tidak kalah prima. Ya, setiap cast di film ini dioptimalkan dengan baik oleh Ben. Chemistry yang solid dan juga menarik.

Sebagai film ketiga Ben Affleck, ia seperti ingin membuat film ini seperti film politik lainnya. Dia tahu bagaimana memaksimalkan setiap potensi yang ada di film ini. Ia mengarahkan setiap adegan dengan cemerlang serta membuat saya sendiri terkagum. Memberikan humor dalam film ini pun merupakan pilihan yang cerdas. Hal ini tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Belum lagi nuansa klasik 70an sampai teknik pengambilan gambar yang terasa 'pas' dengan jaman tersebut. Chris Terrio dibagian penulisan naskah memberikan alur yang kuat dan juga penceritaan yang lugas. Walaupun cerita ini jauh dari cerita yang sebenarnya, tapi penceritaan untuk membangun film ini tetap membuat saya takjub. Ini pun yang menjadi kekuatan Argo. Aleandre Desplat menyajikan score yang mengasyikan nan menegangkan yang mengiringi Argo. Ketiga bagian ini begitu padu menghasilkan Argo sebagai film yang memang satu paket dan hasilnya luar biasa.

Dalam pandangan saya, walaupun film ini memang sangat sensitif namun pesan tersirat bahwa Argo menyindir Amerika dan juga Iran. Argo, memberikan suatu pengalaman tersendiri setelah beberapa film politik yang terjebak dengan pakemnya. Ben Affleck melalui film ini berhasil bertransformasi dari seorang aktor menjadi seorang sutradara yang karya kedepannya akan sangat ditunggu. Overall, Argo merupakan film yang berkelas tapi dibalut dengan kombinasi yang brilian. Luar Biasa!
Score: 4,75/5

Sunday, March 17, 2013

Review: Rock of Ages (2012)

 Director: Adam Shankman
Writter: Justin Theroux, Chris D'Arienzo, Allan Loeb.
 Cast: Julianne Hough, Diego Boneta, Russell Brand, Paul Giamatti, Catherine Zeta-Jones,
Malin Ã…kerman, Mary J. Blige, Alec Baldwin and Tom Cruise
Genre: Romance, Musical, Drama.



"Cum on Feel The Noize!!!!!!"

Apa jadinya kalau anda yang kangen dengan nuansa rock era 80an dan juga suka dengan film serta musikal? Maka ada satu film yang menghadirkan elemen-elemen yang saya sebutkan sebelumnya. Di buat oleh Adam Shankman serta dibintangi oleh banyak cast tenar, mari kita sambut: Rock of Ages, diadaptasi dari teater musikal dengan judul yang sama.


Permasalahan utama di Rock of Ages adalah terlalu banyak karakter dan konflik yang harus disatukan dalam sebuah film. Tidak ada pengembangan berarti bahkan klise nya cerita di film ini sudah membuat Rock of Ages kehilangan arah. Adegan musikal yang hidup tidak diimbangi dengan cerita yang bagus. Saya sendiri sangat bosan ketika karakter-karakter di film ini sedang berdialog ataupun diluar musik yang mengiringi mereka. Adegan-adegan yang tidak penting juga lumayan banyak di film ini. Tapi saya memuji encore di film ini. Ya, adegan penutup yang sangat rock. Meskipun begitu, tidak menyelamatkan film ini sama sekali.  


Bintang di film ini memang layak disematkan kepada Tom Cruise.Dia sangat percaya diri dalam membawakan karakter seorang Stancey Jaxx yang aura Rockstarnya sekali. Saya pun setuju dengan beberapa kritikus yang memberikan applaus kepada Tom. Setelah Cruise, Cast di film ini terasa ogah-ogahan selain bernyanyi. Catherine Zeta Jones buruk sekali, Malin Ankerman terlihat kaku sebagai seorang wartawan Rolling Stone, Russel Brand yang sama saja dengan tipikal karakter2 di film terdahulunya, Bryan Cranston yang hanya sekedar numpang lewat. Paul Giamatti sebagai tokoh antagonis di film ini lumayan mencuri perhatian sebagai manajer yang rakus, Mary J Blige yang lumayan baik serta Baldwin yang bagus dalam membawakan karakternya sebagai pemilik tempat musik. Tungggu dulu, bagaimana dengan Boneta dan Hough? Mereka bagus saat menyanyikan lagu, aura dan chemistry mereka bagus dan sangat hampa ketika cerita berjalan dan karakter mereka seperti kosong di akhir film.


Ide dari Rock of Ages ini sebenarnya sudah terhitung sering digunakan. Dari seseorang yang datang ke kota besar dan ingin jadi tenar tapi kesulitan. Hingga si karakter harus bekerja tidak sesuai impiannya.Adam Shanksman saya rasa begitu nyaman ketika ia membawakan tiap-tiap adegan bernyanyi di film ini, tapi seakan ragu dalam mengarahkan film ini dalam dialognya. Entah naskah dari Justin Theroux, Chris D'Arienzo dan Allan Loeb seakan terasa mentah sehingga jalan cerita Rock of Ages sedikit kacau. Sebagai sebuah nostalgia lagu-lagu rock era 80an, beberapanya sudah mewakili dan juga mengalami aransemen yang tidak kalah ciamiknya walaupun sulit untuk menyamai kualitas lagu aslinya. Saya sendiri menikmati setiap lagunya, terutama lagu yang dibawakan oleh Tom Cruise.


Rock of Ages sebenarnya mengasyikkan dibalik dialog dan cast yang kurang maksimal serta cerita yang kacau. Anda akan bernostalgia atau mungkin saja berkaraoke bersama karakter-karakter di film ini. Seandainya film ini tanpa dialog dan hanya bernyanyi sepanjang film, mungkin akan lebih bagus lagi.

Score: 2,5/5

Friday, March 15, 2013

Review: Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2



Director: Bill Condon

Screenplay: Stephanie Meyer and Mellisa Rosenberg
Cast: Kirsten Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner, Michael Sheen.
Duration: 116 minutes.
Genre: Action/Drama/Romance



"Epic Finale? Not So Epic"


Setelah 5 tahun menemani para Twiharder, Twihatter dan juga penonton bioskop akhirnya Twilight Saga mencapai babak akhir. Sebuah finale/babak akhir yang digadang2 akan memanjakan penonton oleh sang sutradara, Bill Condon. dihinggapi viral marketing yang buruk dan menyapu berbagai kategori Razzie Award yang mengkategorikannya sebagai film terburuk. Namun, itu tidak menjadi alasan untuk tidak menonton film ini.

Baiklah langsung saja. Ketika saya menonton openingnya yang memang tidak biasa ini, saya lumayan suka. Yeah, ketimbang yang dulu rasanya memang keren. Belum lagi plotnya yang lumayan padat. Selain itu film ini memberikan tensi yang lumayan ketika adegan aksi yang memang lebih banyak . itu, Battle Finale yang saya rasa memberikan greget yang mantap setelah obrolan yang amat garing sebelum pertarungan itu terjadi. Namun yang amat disayangkan, saking bersemangatnya Condon ada beberapa scene yang justru lemah dan lumayan menganggu tensi film tersebut.Ia telah memberikan hiburan ketika ia memberikan sebuah kejutan baik Twiharder dan Twihatter yang saya sendiri amat menyukainya. Yang mengecewakan adalah ending yang amat biasa dan tidak memberikan kesan yang mendalam.

Berbicara dari para pemain, lagi2 ini yang disayangkan. Rasanya sulit sekali para pemain mengalami peningkatan performa. Terkecuali Stewart, itupun ia kadang naik turun. Pattinson? Apalagi. Amat datar. Lautner? Berharap apa? Untungnya chemistry mereka agak lumayan disini. Sisa pemainnya? Hanya Michael Sheen yang memberikan performa nya yang brilian. Ya, mungkin ini sudah typical dari Sheen tapi justru amat eye catching. Faktor 'karakter banyak tapi tidak mendapat ruang' lagi2 memang kendala suatu film yang diadaptasi dari novel, termasuk Twilight Saga. 
|

 Bill Condon membayar kesalahan Part 1 yang penceritaannya terlalu bertele2 (bahkan saya rasa pemecahan film ini menjadi 2 bagian terlalu dipaksakan). Part 2 ini Condon ingin penonton nyaman dengan film ini. Bagaimana ia mengarahkan dengan optimal tiap scene dimana ia tahu, sebagai film pamungkas jelas setiap scene haruslah berharga. Yep, saya melihat disini Breaking Dawn Part 2 terlihat lepas. Maksud saya tidak setanggung installment sebelumnya. Komedi yang lumayan pas juga momen2 yang dibalut dengan sinematografi ciamik.  Namun film ini tetap saja tidak luput dari berbagai teknis yang tetap merusak. Poster yang terlihat sangat murahan dengan bujet film yang lebih besar dan skandal Kirsten yang sedikit menganggu promosi film ini. Selain itu  efek CGI yang amat buruk. Fase bayi-anak Renesmee amat menganggu  dan sangat fatal. Musik yang menemani  film ini sendiri lumayan memberikan nuansa ketegangan dan melodramatis yang sesuai dengan tone film ini. 



Overall, saya lebih menikmati Breaking Dawn Part 2 dibandingkan Breaking Dawn Part 1 yang 'serba tanggung', Eclipse yang membosankan, New Moon yang tidak bagus, dan Twilight yang saya rasa terbaik kedua. Well, walaupun dikemas dengan baik namun closing yang buruk. Breaking Dawn Part 2 dan Twilight Sagaakan tetap dipuja oleh Twiharder dan tetap dibenci TwiHatter yang sudah ada sejak kehadiaran film pertama. Salut for Bill Condon dimana ia bisa membalikkan keadaan sehingga BD Part 2 ini bisa dibilang film yang bisa saya nikmati. Ketimbang 3 film sebelumnya, saya merekomendasikan film ini. 



Breaking Dawn Part 2 score: 3/5

Thursday, March 14, 2013

Review: The Stoning of Soraya M (2008)

Director: Cyrus Nowrasteh
Writter: Betsy Giffen Nowrasteh, Cyrus Nowrasteh
Cast: Mozhan Marnò, Shohreh Aghdashloo, James Caviezel, Parviz Sayyad,
Vida Ghahremani, Navid Negahban
Duration: 116 minutes
Genre: Drama, Torture.


"Apakah Agama menjadi suatu dasar pembenaran atau egoisme semata dari umatnya?"

Masing2 hukum agama memiliki satu satu persamaan, untuk membuat jera umatnya atau sebagai peringatan bagi mereka yang ingin melanggaran ketentuan dalam ajaran tersebut. Pada tahun 2008 hadirlah sebuah film yang mengangkat sebuah kisah nyata di Iran, tentang seorang wanita yang dihukum dengan dalih 'pelanggaran' hingga akhirnya dia menemui ajal : The Stoning of Soraya M. Diadaptasi dari novel berjudul sama ditulis oleh seorang wartawan bernama Freidoune Sahebjam.



Seorang Wartawan yang sedang hendak pulang setelah bertugas sedang menunggu mobilnya yang akan diperbaiki. Namun, ada seorang perempuan berumur yaitu Zahra yang berusaha menarik perhatiannya. Namun warga sekitar termasuk Mullah (petinggi daerah) sudah mewanti bahwa ia ini aneh dan kurang baik omongannya. Zahra pun tidak menyerah hingga akhirnya mereka bertemu dan berbincang. Zahra menceritakan kehidupan keponakannya, Soraya yang berakhir tragis. Ia seorang istri dari Ali yang kurang baik sebagai kepala keluarga. Suatu hari, ia diminta membantu tetangganya yang ternyata menjadi suatu malapetaka dalam hidupnya. Suatu hukuman rajam (dilempar batu hingga mati) yang akan menantinya.


Film ini dibuka dengan bagus dan karakteristik yang bagus. Sialnya, menjelang pertengahan tensi malah menurun dan selamat menjelang akhir film. Saya sendiri sempat berharap tensi nya yang bagus. Sayangnya, dramatisasinya agak berlebihan. Ini yang membuat The Stoning of Soraya kehilangan arah di pertengahan film. Apalagi ketika 'eksekusi' Soraya... lebih parah lagi dramatisasinya. Efek ngeri nya jadi sedikit berkurang.



Saya salut dengan pemeran Soraya, Mozhan Marno. Dia memberikan performanya yang apik baik dalam nuansa kesabaran seorang wanita yang harus bertahan dalam garis hidup keras suami dan juga lingkungannya. Ekspresif dan juga emosi yang ia keluarkan sangat pas. Sementara Shohreh Aghdashlo  memberikan kesan Bibi Soraya, Zahra yang tidak kalah tanggung nan kukuh dalam memperjuangkan hak kebenaran. Sementara sektor antagonis yang cukup vital juga dihadirkan dengan baik oleh Navid Negahban sebagai Ali suami dari Soraya yang tidak memiliki rasa hormat pada Soraya. Peran Mullah yang perlente tapi kurang ajar juga berhasil diperankan oleh Ali Pourtash. Yang saya sayangkan mungkin hanya Jim Caviezel yang terkesan kurang kuat dalam perannya di film ini. Terkesan hanya mendompleng namanya untuk mempromosikan film ini saja ke khalayak luar.



Film dengan muatan agama seperti ini bisa jadi agak 'sensitif' untuk dibicarakan. Tapi keberanian Cyrus Norwasteh untuk mengarahkan film ini patut mendapat pujian. Ia membiarkan penonton untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sehingga Soraya harus dihukum seperti itu. Sayangnya, di beberapa adegan Cyrus dan Betsy yang bertanggung jawab dalam penulisan naskah  seperti terlalu berlebihan memberikan unsur dramatisasinya. Untungnya di bagian akhir film atau klimaks dari keseluruhan film memberikan tensi yang luar biasa. Tidak banyak latar musik, namun beberapa latar musiknya memberikan efek dramatis yang sesuai dengan perasaan atau sekuens yang dihadapi Soraya.

Overall, film ini memang menjadi bahan perdebatan apakah agama ini dipakai sebagai latar suatu egoisme belaka untuk suatu kebenaran? Kembali kepada pribadi kita masing-masing. Namun, film ini menjadi suatu refleksi bagaimana agama bisa jadi disalahgunakan untuk suatu tujuan kebenaran hakiki. Saya merekomendasikan film ini. 



Score: 3,5/5

Tuesday, March 12, 2013

Review: Django Unchained (2012)

Director and Writter: Quentin Tarantino
Cast: Jamie Foxx, Christopher Waltz, Kerry Washington, Leonardo DiCaprio and Samuel L Jackson

Genre: Western Spaghetti, Cowboy, Action, Drama.

*film ini untuk dewasa dikarenakan beberapa adegan sadis dan adegan telanjang juga kata2 kasar...




"Django.... The 'D' Silence"






Jujur saya baru menonton beberapa karya dari Quentin Tarantino. Seperti dwilogi Kill Bill dan Inglourious Basterds (film ini belum sempat saya review hingga kini). Django Unchained adalah salah satu film yang banyak ditunggu pecinta film, termasuk saya. Mengambil setting jaman dulu serta dibintangi beberapa aktor yang kualitasnya tidak perlu diragukan.

Dimulai pada kisah Django yang menjadi budak pada masa itu dan Dr. Schultz ternyata sudah mencarinya. Perlu diketahui pada masa itu orang kulit hitam banyak dijadikan budak atau bawahan dan kasta mereka pun rendah. Menemukan pria kulit hitam ini, Schultz sempat mengalami kesulitan (sebenarnya sih tidak) kemudian ia membebaskan Django. Ia pun menawarkan Django menjadi rekannya sebagai pemburu orang/Bounty Hunter. Django pun ingin menemukan istrinya, Broomhilda yang sudah berpisah darinya ketika mereka kabur dulu kala. Schultz pun mengamininya. Mereka pun saling bahu membahu dan Schultz dengan telaten mengajarkan Django banyak hal. Hingga mereka pun menemukan seorang Calvin J. Candie, seorang pemilik perkebunan di Candyland dan hobinya adalah melihat bawahannya bertarung Mandingo. Ia pun yang memiliki Broomilda. Mereka pun melakukan negoisasi dan pergi ke ladan milik Candie yang dijaa oleh Stephen. seorang kulit hitam yang kastanya lebih baik. Django serta Schultz kemudian bersiasat bagaimana caranya membebaskan Broomhilda dari tangan Candie yang sama sekali tidak mudah....


Sebagai salah satu penikmat film Tarantino, saya agak kaget karena tidak biasanya dia membuat film seperti ini. Tidak ada part2 atau ya bagian/chapter yang biasanya sutradara ini lakukan. Film ini dibuka dengan opening yang absolut. Musik dengan lagu 'Django' memberikan kesan 'laki' dan juga opening yang absolut. Tarantino memberikan kenyamanan kepada penontonnya untuk mengikuti setiap alur film ini. Kadar humor dan juga aksi maupun interaksi antar karakter dalam durasi 2 jam 35 menit dibawakan dengan mantap. Tidak ada kekosongan maupun kebosanan yang saya rasakan ketika menontonnya. Belum lagi adegan klimaks yang tidak kalah edannya.

Kali ini Tarantino mulai 'meminimalisir' castnya seperti dalam Kill Bill dan tidak seriuh Inglourous Basterds. Jamie Foxx bermain dengan prima sebagai Django. Aura humor disertai penderitaan juga perkembangan karakter yang dari nobody-to-somebody dibawakanna dengan baik. Kredit lebih lagi2 ditujukan kepada Christopher Waltz yang lagi2 mempesona saya lewat aktingnya yang flamboyan dan menjadi mentor yang baik juga penyabar bai Django. Belum lagi kharisma nya sebagai penipu ulung juga omongan2nya yang laten. Waltz tidak ragu untuk membuat Schultz sangat karismatik. Sebagai tokoh antagonis yang biasanya ia jarang lakukan, DiCaprio pun berhasil dan juga melebihi ekspetasi saya. Emosi dan letupan aura jahatnya tidak ia sia2kan untuk dieksplorasi. Samuel L Jackson sendiri bermain beda dari setiap peran pembantuyan ia lakukan. Lucu dan juga ekspresinya pun membuat saya tertawa terpingkal2.

Quentin Tarantino memang tidak pernah ada habisnya. Membutuhkan jeda 3 tahun dari filmnya dahulu, ia memberikan suatu tema yang bisa dibilang kurang laku di beberapa tahun belakangan ini. Tapi ia berhasil meramu ceritanya dengan gemilang. Aroma Southern dan cowboy/koboi juga berhasil ia realisasikan ke setiap gambar yang ia arahkan. Belajar dari Inglourious, cast yang lebih sempit ini membuat ia bisa mengeluarkan potensi2 lebih dari setiap karakternya. Plot yang ia tulis pun terjaga hingga akhir. Lokasi2 yang ada di film ini pun keren. Kelebihan yang tidak kalah menarikya adalah soundtrack dan score yang mengisi dan mengiringi setiap adegan2 dengan sempurna. Bagian musik yang menjadi tanggung jawab dari Elayna Btanton pun tidak disia-siakan sehingga film ini menjadi hidup akan aroma cowboy yang kental. Tidak lupa, adegan2 sadis di Django ini sendiri juga tidak kalah ketimbang film2 terdahulunya. Merupakan ciri khas dari seorang Tarantino.
Overall, Django Unchained merupakan pencapaian tertinggi seorang Quentin Tarantino menurut saya. Sebuah film dengan menu yang sulit untuk ditolak disertai cast yang gemilang. Saya sangat puas dan film ini melebihi ekspetasi. Sangat direkomendasikan oleh saya. Bravo, Quentin Tarantino!


Score: 4,5/5

Saturday, March 2, 2013

Review: Little Miss Sunshine (2006)

Director: Jonathan Dayton and Valerie Faris
Writer: Michael Ardnt

Cast: Greg Kinnear, Steve Carell, Toni Collette, Paul Dano, Abigail Breslin and Alan Arkin.

Genre: Family, Comedy, Drama.




Keluarga itu ada yang bahagia dan tidak bahagia. Hal ini memang realita yang ada tentunya. Film yang menceritakan keluarga tidak bahagia ini diusung oleh sutradara Jonathan Dayton dan Valerie Faris yang mengangkat kisah yang ditulis oleh Michael Ardnt: Little Miss Sunshine. Film ini pun mendapat penghargaan Oscar yang menang pada kategori Best Adapted Screenplay dan Best Supporting Actor untuk Alan Arkin.

Keluarga satu ini benar2 porak-porandak. Ada seorang suami yaitu Richard Hoover, seorang motivator mengenai 9 langkah yang menapaki karir. Istrinya Sheryl yang pekerja berat sementara saudaranya sendiri Frank baru melewati masa rehabilitasi akibat tindakan gila Frank. Mereka punya dua anak, yaitu Dwayne yang melakukan 'diam seribu bahasa' demi kelancarannya masuk ke sekolah penerbangan dan Olive yang bongsor itu ingin mengikuti perlombaan ratu kecantikan di California. Tidak kalah gilanya si kakek, Edwin seorang veteran yang hobi menghisap heroin dan berucap seenak udelnya sendiri. Keadaan sangat kacau balau dimana keluarga mereka yang lumayan kesulitan keuangan sementara Richard berharap untuk mendapat kesempatan menerbitkan buku motivatornya. Sheryl yang mendapat kabar putrinya itu lolos untuk berpartisipasi di perlombaan tersebut juga malah memusingkan suaminya. Keputusan berat diambil, mereka harus menaiki vw combi demi penghematan. Dalam perjalanan mereka, berbagai macam problema dan ujian harus mereka hadapi yang akan merubah hidup mereka.


Dihajar dengan masalah dari awal namun dengan fondasi cerita dan alur yang begitu membuat Little Miss Sunshine sempat saya kira akan membosankan. Namun saya salah duga ketika memasuki acara makan malam mereka, film ini menghadirkan komedi yang tidak biasa yang satir *bahkan meledek suatu elemen gaya bahasa* juga memberikan dampak kekeluargaan yang nyeleneh. Dari awal hingga pertengahan, film ini menapak pelan namun ketika menjelang klimaksnya sendiri gaya penceritaannya bikin saya terperangah oleh perjuangan keluarga ini. Selain itu, ceritanya juga meledek dengan sukses perlombaan kecantikan baik di Amerika atau di negara manapun.



Dengan karakter segambreng, Little Miss Sunshine memukul rata porsi tiap pemain. Gregg Kinnear tampil meyakinkan sebagai Richard seorang pria yang stress oleh pekerjaannya lalu Tonni Colleete sebagai istrinya juga apik sebagai istri yang tidak kalah stressnya. Steve Carrell yang biasanya berkomedi ria disini agak mengerem kebiasaannya namun dengan cara yang berbeda. Ekspresi depresi nya pas. Abigail Breslin (masih kecil-kecil imut dimasa itu) juga bikin gemas lewat perannya sebagai Olive yang agak minderan karena kegemukannya namun akhirnya tetap pede. Paul Dano disini termasuk yang cemerlang lewat perannya sebagai seorang pria yang harus tahan tidak berbicara di film ini namun ekspresinya menunjukkan karakter yang absolut. Disinilah dia bintangnya, Alan Arkin sebagai Edwin yang gilanya minta ampun namun sangat perhatian dengan cucu perempuannya ketimbang anaknya sendiri. Arkin sukses menghipnotis saya dengan setiap adegan yang ia tampilkan.


Ini merupakan karya film pertama Jonathan Dayton dan Valerie Faris dan saya akui, karyanya bagus sekali. Setiap naskah dari Ardnt sendiri mereka terjemahkan dengan baik sekali. Wajar saja apabila naskah ini begitu ingin dimiliki oleh Fox Searchlight. Tentunya mereka tidak salah pilih. Dayton dan juga Faris sukses mengarahkan aktor2 untuk lebih menyatu dalam chemistrynya sebagai sebuah keluarga. Kekuatan plotnya pun membuat film ini digdaya. Sinematografi yang ciamik dari Tim Shurstedt sangat membantu tiap tiap gambar yang indah di film ini. Kekuatan lainnya ada pada sektor musik yang juga dijalankan dengan baik oleh Michael Danna dan DeVotchka. Sangat asyik mengiringi film ini hingga klimaks yang paten.

Tidak salah bila banyak orang yang memilikih film ini sebagai salah satu film terbaik, saya salah satunya yang setuju. Menjadi refleksi dan ilham bagi keluarga maupun calon keluarga yang bermasalah maupun tidak. Hadapi masalah itu dengan apapun kemampuan kita, inilah pesan dari Little Miss Sunshine. Overall, saya sangat merekomendasikan film ini. Wonderful.
Little Miss Sunshine Score: 4,5/5

Review: Before Sunset (2004)

 
Director: Richard Linklater

Writer: Richard Linklater, Kim Krizan, Ethan Hawke, Julie Deply

Cast: Ethan Hawke, Julie Delpy

Genre: Romance



Film romansa yang menceritakan kedua orang yang hobi ngobrol ini kembali berlanjut. Masih bersama Richard Linklater yang menyutradarai film ini dan anda akan ditemani pula bersama Hawke dan Delpy, membicarakan banyak hal dalam "Before Sunset"


9 tahun setelah pertemuan, Jesse menerbitkan sebuah buku yang terinspirasi dari kisah dia dengan Celine. Pada hari itu ia pun melakukan konfrensi pers di Paris untuk penerbitan buku karyanya. Tak dinyana, di tempat itu ia pun bertemu kembali dengan Celine. Jesse kemudian mengatur waktunya untuk bisa berbincang kembali dengan wanita itu sebelum jadwal keberangkatan pesawatnya. Sebelum matahari terbenam... mereka kembali mengobrol dan banyak hal yang terkuak selama 9 tahun mereka terpisah...


Film ini dibuka dengan kuat baik alur maupun karakteristik. Kualitas dari film pertamanya masih terjaga di sekuelnya ini walaupun durasi nya hanya 1 jam setengah. Obrolan mereka selama durasi tersebut tetap tidak membosankan. Intensitas obrolan mereka pun meningkat, dikarenakan pengalaman hidup mereka dan umur yang bertambah dari karakter tersebut.


Hawke maupun Delpy lagi-lagi mempesona saya lewat dialog mereka dan chemistry yang kuat. Jika pada 9 tahun sebelumnya mereka benar-benar 'muda dan bodoh (dalam konotasi positif)', keduanya baik Celine dan Jesse sudah kaya pengalaman dari kehidupan mereka selama jeda waktu tersebut. Jesse yang seakan termakan omongannya sendiri di Sunset ataupun Celine yang terlihat lebih matang. Adanya kejutan di pertengahan menjelang akhir film inilah yang mengangkat Sunset lebih baik lagi dari Before Sunrise.


Linklater disini menyutradai dengan lepas. Ia membawa penonton ke arah babak berikutnya dari Jesse dan Celine ke hal-hal yang baru. Baik Linklater,Delpy dan Hawke meramu ceritanya dengan apik. Pun sinematografinya yang indah mengeksplor keindahan Paris dikala menjelang sore usai. Lokasi yang dipilih juga bagus nan romantis. Long take/pengambilan gambar panjang yang jadi senjata andalan mereka pun dimaksimalkan dengan sempurna. Anda pun akan dimanjakan dengan alunan lagu yang dinyanyikan oleh Julie Delpy sendiri yang menyumbangkan suaranya untuk mengiringi Before Sunset.




Overall, kepuasan saya dan bahkan saya tidak bosan-bosannya untuk mengulangi menonton film ini, sama halnya ketika saya menonton Before Sunrise. Pengalaman yang tidak terlupakan. Saya pun menantikan kolaborasi mereka untuk yang ketiga kalinya di Before Midnight yang tayang pada tahun ini. What a great moment with nice sequel of romance...

Before Sunset Score: 5/5