Thursday, March 14, 2013

Review: The Stoning of Soraya M (2008)

Director: Cyrus Nowrasteh
Writter: Betsy Giffen Nowrasteh, Cyrus Nowrasteh
Cast: Mozhan Marnò, Shohreh Aghdashloo, James Caviezel, Parviz Sayyad,
Vida Ghahremani, Navid Negahban
Duration: 116 minutes
Genre: Drama, Torture.


"Apakah Agama menjadi suatu dasar pembenaran atau egoisme semata dari umatnya?"

Masing2 hukum agama memiliki satu satu persamaan, untuk membuat jera umatnya atau sebagai peringatan bagi mereka yang ingin melanggaran ketentuan dalam ajaran tersebut. Pada tahun 2008 hadirlah sebuah film yang mengangkat sebuah kisah nyata di Iran, tentang seorang wanita yang dihukum dengan dalih 'pelanggaran' hingga akhirnya dia menemui ajal : The Stoning of Soraya M. Diadaptasi dari novel berjudul sama ditulis oleh seorang wartawan bernama Freidoune Sahebjam.



Seorang Wartawan yang sedang hendak pulang setelah bertugas sedang menunggu mobilnya yang akan diperbaiki. Namun, ada seorang perempuan berumur yaitu Zahra yang berusaha menarik perhatiannya. Namun warga sekitar termasuk Mullah (petinggi daerah) sudah mewanti bahwa ia ini aneh dan kurang baik omongannya. Zahra pun tidak menyerah hingga akhirnya mereka bertemu dan berbincang. Zahra menceritakan kehidupan keponakannya, Soraya yang berakhir tragis. Ia seorang istri dari Ali yang kurang baik sebagai kepala keluarga. Suatu hari, ia diminta membantu tetangganya yang ternyata menjadi suatu malapetaka dalam hidupnya. Suatu hukuman rajam (dilempar batu hingga mati) yang akan menantinya.


Film ini dibuka dengan bagus dan karakteristik yang bagus. Sialnya, menjelang pertengahan tensi malah menurun dan selamat menjelang akhir film. Saya sendiri sempat berharap tensi nya yang bagus. Sayangnya, dramatisasinya agak berlebihan. Ini yang membuat The Stoning of Soraya kehilangan arah di pertengahan film. Apalagi ketika 'eksekusi' Soraya... lebih parah lagi dramatisasinya. Efek ngeri nya jadi sedikit berkurang.



Saya salut dengan pemeran Soraya, Mozhan Marno. Dia memberikan performanya yang apik baik dalam nuansa kesabaran seorang wanita yang harus bertahan dalam garis hidup keras suami dan juga lingkungannya. Ekspresif dan juga emosi yang ia keluarkan sangat pas. Sementara Shohreh Aghdashlo  memberikan kesan Bibi Soraya, Zahra yang tidak kalah tanggung nan kukuh dalam memperjuangkan hak kebenaran. Sementara sektor antagonis yang cukup vital juga dihadirkan dengan baik oleh Navid Negahban sebagai Ali suami dari Soraya yang tidak memiliki rasa hormat pada Soraya. Peran Mullah yang perlente tapi kurang ajar juga berhasil diperankan oleh Ali Pourtash. Yang saya sayangkan mungkin hanya Jim Caviezel yang terkesan kurang kuat dalam perannya di film ini. Terkesan hanya mendompleng namanya untuk mempromosikan film ini saja ke khalayak luar.



Film dengan muatan agama seperti ini bisa jadi agak 'sensitif' untuk dibicarakan. Tapi keberanian Cyrus Norwasteh untuk mengarahkan film ini patut mendapat pujian. Ia membiarkan penonton untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sehingga Soraya harus dihukum seperti itu. Sayangnya, di beberapa adegan Cyrus dan Betsy yang bertanggung jawab dalam penulisan naskah  seperti terlalu berlebihan memberikan unsur dramatisasinya. Untungnya di bagian akhir film atau klimaks dari keseluruhan film memberikan tensi yang luar biasa. Tidak banyak latar musik, namun beberapa latar musiknya memberikan efek dramatis yang sesuai dengan perasaan atau sekuens yang dihadapi Soraya.

Overall, film ini memang menjadi bahan perdebatan apakah agama ini dipakai sebagai latar suatu egoisme belaka untuk suatu kebenaran? Kembali kepada pribadi kita masing-masing. Namun, film ini menjadi suatu refleksi bagaimana agama bisa jadi disalahgunakan untuk suatu tujuan kebenaran hakiki. Saya merekomendasikan film ini. 



Score: 3,5/5

2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete